Perkenalkan
adikku, anugrah ketiga untuk ayah ibuku setelah kakakku dan aku. adik
laki- lakiku tepat setelah aku. Ia ada setelah aku 4 tahun ada d dunia.
Jarak yang cukup bagiku kelak untuk aku bertanggung jawab terhadapnya.
Menurutku akulah satu – satu orang yang paling bertanggung jawab
terhadap masa depannya, tidak ayahku, tidak ibuku, tidak juga kakakku
tapi aku. Yah mungkin ini semacam hierarki tanggung jawab dengan rumus
jika a=b maka b=c dimana a adalah kakakku, b adalah aku dan c adalah
adikku, ya seperti itu.
Adikku itu, bukanlah sosok manusia pembawa sukacita malah lebih cenderung sebagai manusia pembuat luka, terutama terhadap ayah dan ibuku. Pernah suatu ketika aku meminta tuhan agar menghilangkannya saja dari dunia karena ia berkata kasar pada ibuku, ibu kandungku. Dan aku yakin kalian tau tingkat kekasaran ucapannya yang ku maksud sampai – sampai aku ingin ia menghilang dari dunia. Aku mengingatnya, sampai kapanpun aku akan mengingat perlakuan kasarnya tehadap manusia yang paling ku cinta. Tapi aku yakin ia akan menyesalinya dengan tangisan air mata darah. Untuk hal ini aku memakluminya tapi tidak akan melupakannya. Dan memang jika anda sudah terbiasa menghadapi kemudahan maka akan sangat sulit sekali saat menghadapi kesulitan sekecil apapun ia. Tapi jika anda sudah terbiasa dengan kesulitan maka akan lebih mudah menghadapi kesulitan lainnya walau sebesar apapun ia. Ku anggap itulah yang melatarbelakangi dosa besar adikku ini, ia sudah terbiasa dengan kemudahan maka saat menghadapi kesulitan kecil ia merasa dunia seakan menghimpitnya sampai – sampai ia tak lagi mengenal ibunya. Jadi dalam masalah ini ia ku maklumi, masalah dosanya biar ia sendiri yang tangani.
Terhadap adikku si pembuat luka itu, terlepas dari dosa besarnya terhadap ibuku aku punya sesuatu yang lebih besar terhadapnya. Aku punya harapan sebesar dunia yang ingin kutitipkan padanya. Bukan untukku, tapi untuk ayah ibuku. Anggap saja sebagai penebus dosa baginya dan sekaligus penyicil hutang yang takkan pernah terbayar kepada kedua manusia mulia itu.
Hari ini, ia akan pergi jauh mencoba untuk berburu ilmu yang baru yang dijanjikan tanah asing nun jauh. Perasaan aneh membatiniku. Bagaimanapun ia, ia tetap adik kecilku, aku takut dunia menyesatkan atau bahkan melukainya dan aku sangat tak rela jika ia terluka. Karena keterlukaan terparah adalah ketika melihat mereka yang dicinta dalam keadaan terluka dan menderita sedang kita dalam keadaan baik – baik saja. Aku terima jika aku terluka, tapi sangat tak terima jika mereka yang terluka.
Tapi setelah ku pikir – pikir lagi, mungkin lebih baik baginya untuk mengenal luka nestapa agar ia tahu siapa dirinya. Jadi mungkin mulai sekarang aku akan mencoba belajar menerima jika tuhan sedikit “ mengganggu “ nya. Tidak apa – apa tuhan, jika kau ingin “mengganggu” nya, maka ganggulah ia. Tempa jiwanya dengan kesulitan, lalu tolong ajari ia tentang kekuatan dan kesabaran. Biarkan ia merasa sendirian lalu ajarkan ia tentang kebijaksanaan. Jika ia tersesat dari jalannya, maka seret paksa ia kembali ke jalannya. Perlihatkan kepadanya penderitaan lalu ajari ia untuk memahami kesyukuran. Jika ia bersedih hati maka ingatkan dia bahwa ia tak sendirian. Jika dunia dan seisinya melelahkan jiwanya maka ajarilah ia tentang ketangguhan.
Sedikit bekal untuk kau yang kutitipkan harapan sebesar dunia kepadamu…..
Orang berakal dan beradab tidak akan diam di kampung halaman. Tinggalkan negrimu dan merantaulah ke negri orang, merantaulah. Kau akan dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan. berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang. aku melihat air menjadi rusak karena diam tertahan, singa jika tak tinggalkan sarang tak akan dapat mangsa, anak panah jika tak tinggalkan busur takkan kenasasaran, jika matahari di orbitnya tidak bergerak dan terus diam, tentu manusia bosan padanya dan enggan memandang, biji emas bagaikan tanah biasa sebelum digali dari tambang, kayu gaharu tak ubahnya seperti kayu biasa jika di dalam hutan ( imam syafi’I )
Jadi pergilah ke negri orang, dapatkan apa yang ingin kau dapatkan. Pelajari apapun tentang kehidupan lalu pulanglah dengan membawa senyuman ! from zero to hero boy, kelak si pembuat luka akan berganti nama menjadi si pembawa senyum bahagia. Satu hal lagi, janganlah lemah terhadap mulut manusia ! caci maki adalah salah satu obat penguat hati.

Adikku itu, bukanlah sosok manusia pembawa sukacita malah lebih cenderung sebagai manusia pembuat luka, terutama terhadap ayah dan ibuku. Pernah suatu ketika aku meminta tuhan agar menghilangkannya saja dari dunia karena ia berkata kasar pada ibuku, ibu kandungku. Dan aku yakin kalian tau tingkat kekasaran ucapannya yang ku maksud sampai – sampai aku ingin ia menghilang dari dunia. Aku mengingatnya, sampai kapanpun aku akan mengingat perlakuan kasarnya tehadap manusia yang paling ku cinta. Tapi aku yakin ia akan menyesalinya dengan tangisan air mata darah. Untuk hal ini aku memakluminya tapi tidak akan melupakannya. Dan memang jika anda sudah terbiasa menghadapi kemudahan maka akan sangat sulit sekali saat menghadapi kesulitan sekecil apapun ia. Tapi jika anda sudah terbiasa dengan kesulitan maka akan lebih mudah menghadapi kesulitan lainnya walau sebesar apapun ia. Ku anggap itulah yang melatarbelakangi dosa besar adikku ini, ia sudah terbiasa dengan kemudahan maka saat menghadapi kesulitan kecil ia merasa dunia seakan menghimpitnya sampai – sampai ia tak lagi mengenal ibunya. Jadi dalam masalah ini ia ku maklumi, masalah dosanya biar ia sendiri yang tangani.
Terhadap adikku si pembuat luka itu, terlepas dari dosa besarnya terhadap ibuku aku punya sesuatu yang lebih besar terhadapnya. Aku punya harapan sebesar dunia yang ingin kutitipkan padanya. Bukan untukku, tapi untuk ayah ibuku. Anggap saja sebagai penebus dosa baginya dan sekaligus penyicil hutang yang takkan pernah terbayar kepada kedua manusia mulia itu.
Hari ini, ia akan pergi jauh mencoba untuk berburu ilmu yang baru yang dijanjikan tanah asing nun jauh. Perasaan aneh membatiniku. Bagaimanapun ia, ia tetap adik kecilku, aku takut dunia menyesatkan atau bahkan melukainya dan aku sangat tak rela jika ia terluka. Karena keterlukaan terparah adalah ketika melihat mereka yang dicinta dalam keadaan terluka dan menderita sedang kita dalam keadaan baik – baik saja. Aku terima jika aku terluka, tapi sangat tak terima jika mereka yang terluka.
Tapi setelah ku pikir – pikir lagi, mungkin lebih baik baginya untuk mengenal luka nestapa agar ia tahu siapa dirinya. Jadi mungkin mulai sekarang aku akan mencoba belajar menerima jika tuhan sedikit “ mengganggu “ nya. Tidak apa – apa tuhan, jika kau ingin “mengganggu” nya, maka ganggulah ia. Tempa jiwanya dengan kesulitan, lalu tolong ajari ia tentang kekuatan dan kesabaran. Biarkan ia merasa sendirian lalu ajarkan ia tentang kebijaksanaan. Jika ia tersesat dari jalannya, maka seret paksa ia kembali ke jalannya. Perlihatkan kepadanya penderitaan lalu ajari ia untuk memahami kesyukuran. Jika ia bersedih hati maka ingatkan dia bahwa ia tak sendirian. Jika dunia dan seisinya melelahkan jiwanya maka ajarilah ia tentang ketangguhan.
Sedikit bekal untuk kau yang kutitipkan harapan sebesar dunia kepadamu…..
Orang berakal dan beradab tidak akan diam di kampung halaman. Tinggalkan negrimu dan merantaulah ke negri orang, merantaulah. Kau akan dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan. berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang. aku melihat air menjadi rusak karena diam tertahan, singa jika tak tinggalkan sarang tak akan dapat mangsa, anak panah jika tak tinggalkan busur takkan kenasasaran, jika matahari di orbitnya tidak bergerak dan terus diam, tentu manusia bosan padanya dan enggan memandang, biji emas bagaikan tanah biasa sebelum digali dari tambang, kayu gaharu tak ubahnya seperti kayu biasa jika di dalam hutan ( imam syafi’I )
Jadi pergilah ke negri orang, dapatkan apa yang ingin kau dapatkan. Pelajari apapun tentang kehidupan lalu pulanglah dengan membawa senyuman ! from zero to hero boy, kelak si pembuat luka akan berganti nama menjadi si pembawa senyum bahagia. Satu hal lagi, janganlah lemah terhadap mulut manusia ! caci maki adalah salah satu obat penguat hati.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar