Sudah
lama aku ingin bercerita, bercerita tentang negri ini. Negri dimana aku
“didamparkan” oleh tuhan. Negri damparanku itu bernama Minangkabau,
negri simalin yang katanya durhaka. Tinggalkan dulu simalin dan
kedurhakaannya, sekarang aku ingin bercerita tentang negrinya.
Kita mulai dari namanya, minangkabau. Awalnya, penjelasan tentang sejarah nama minangkabau yang ku dapat adalah bahwa nama minangkabau berasal dari pertandingan kerbau antara masyarakat jawa dan masyarakat negri simalin. Dahulu, konon ceritanya saat pertandingan tersebut orang jawa memiliki kerbau yang sangat besar dan kuat sedangkan negri simalin hanya mempunyai kerbau yang berukuran sangat kecil dan mustahil untuk mengalahkan kerbau orang jawa yang berukuran besar tersebut. Namun, untuk memenangkan pertandingan tersebut, masyarakat negri simalin memasangkan tanduk besi pada kerbaunya yang sangat kecil itu. Hal ini tidak diketahui oleh orang jawa. Alhasil kerbau kecil milik negri simalin itu menang. Lalu dari pertandingan inilah tercipta nama minangkabau yang berasal dari kata minang yang berarti menang dan kabau yang berarti kerbau. Jadilah minangkabau. Ya setidaknya begitulah sejarah singkat tentang nama minangkabau yang kudapat saat pertama datang ke negri ini, untuk sementara kupercayai sejarah ini. Ya kepercayaanku ini berlandasan, untukku yang bukan “orang minang” pikiran awamku tentang mereka orang minang adalah mereka sedikit cerdas dalam hal berpikir, kira – kira begitu juga paradigma yang berkembang tentang mereka di luar sana. Ya jadi aku percayai saja.
Tapi untungnya aku ini mahasiswa fakultas sastra yang di dalamnya juga terdapat jurusan tentang ilmu sejarah. Aku punya banyak teman disana, anak sejarah begitu istilahnya. Walaupun aku adalah mahasiswa pembelajar sastra dan bukan anak sejarah tapi aku sedikit menyukai sejarah. Ya segala hal tentang bagaimana dunia ini dahulunya, aku menyukainya. Jadi kutanyai saja pada mereka dan ternyata sejarah tentang nama minangkabau yang kudapat dahulu adalah salah. Itu adalah ulah belanda, politik adu domba katanya. Dasar belanda gila, untunglah aku bisa bertanya dan memastikan sejarah langsung pada ahlinya.
Kata temanku anak sejarah itu, nama minangkabau berasal dari bahasa arab yaitu minangkabawiyah yang artinya maaf aku lupa kata itu menjelaskan tentang apa. Tapi setidaknya sejarah nama minangkabau yang baru kudapat ini lebih terdengar ramah daripada sejarah yang diciptakan oleh belanda gila itu. Okeh itu tentang nama.
Lalu aku ingin bercerita tentang manusia – manusia yang ada didalamnya. Bicara tentang manusia, berarti bicara tentang budaya. Karena manusia adalah salah satu dari unsur budaya, itu yang kupahami dari bangku kuliah dan sebagai mahasiswa fakultas sastra. Dan sungguh itu sangat berbeda, benar – benar berbeda dari tempatku sebelumnya, kampung halaman tercinta. Aku ini lahir dan dibesarkan dalam masyarakat melayu, bumi lancang kuning. Tapi aku berkembang dan belajar banyak di ranah minang, negri damparan. Bukan bermaksud mengangkat isu primordial atau kesukuan, aku mencintai negri ku sendiri tapi aku lebih tertarik dengan negri orang, ranah minang negri damparan. Itu karena, aku belajar lebih banyak hal disini. Memang negri sendiri adalah tempat ternyaman tapi negri orang lebih menjanjikan banyak pelajaran. Tak percaya, silahkan buktikan.
Ditempatku melihat orang berbicara dengan landasan adat itu sangatlah jarang. Tapi disini dalam percakapan bahkan hanya sekedar gurauan, aku melihat adanya unsur adat dan kebudayaan. Ditempatku, di bumi lancang kuning sana melihat orang dewasa berbicara tentang pepatah adat saja susah, tapi disini aku malah mendengar anak kecil bicara dengan menggunakan kata – kata atau pribahasa adatnya dan itu di pakai dalam bahasa pergaulan sehari – hari. Anak kecil disini tahu dengan istilah kato nan ampek, dimana terdapat 4 cara bertutur yang berbeda pemakaiannya sesuai dengan lawan bicaranya. Mandata, malereng, mandaki dan manurun. Aku tahu banyak pepatah minang tapi tak satupun tahu tentang pepatah negri asalku. Aku tahu dengan istilah Bak manggadangkan anak ula , takana lai takatokan indak, Buruak muko camin dibalah, lamak dek awak katuju dek urang, Biliak ketek biliak gadang, Gabak dihulu tando kahujan, cewang dilangik tando kapaneh, Gadang maimpok, panjang malindieh, laweh nak manyawok, raso jo pareso. Yah banyak lagi lah kira – kira. Aku tahu bukan karena belajar tapi karena sering mendengar.
Disini dalam berbicara atau hanya gurauan saja mereka tidak melupakan adat dan budaya. Tapi di tempatku budaya mungkin hanya sebagai sejarah belaka. Mereka tidak melupakan adat dan budaya, itulah yang aku suka. Lihatlah, aku belajar bukan, belajar tentang penghargaan.
Itulah salah satu mengapa aku tertarik dengan negri orang. Aku ingin belajar apa saja yang tak kujumpai di negriku. Negriku indah tapi karena telah terbiasa maka ia menjadi biasa – biasa saja. Aku butuh yang tak biasa, aku butuh yang tak biasa untuk mengasah rasa.
Nanti kuceritakan lagi tentang negri damparanku ini, cerita tak habis sampai disini.
Kita mulai dari namanya, minangkabau. Awalnya, penjelasan tentang sejarah nama minangkabau yang ku dapat adalah bahwa nama minangkabau berasal dari pertandingan kerbau antara masyarakat jawa dan masyarakat negri simalin. Dahulu, konon ceritanya saat pertandingan tersebut orang jawa memiliki kerbau yang sangat besar dan kuat sedangkan negri simalin hanya mempunyai kerbau yang berukuran sangat kecil dan mustahil untuk mengalahkan kerbau orang jawa yang berukuran besar tersebut. Namun, untuk memenangkan pertandingan tersebut, masyarakat negri simalin memasangkan tanduk besi pada kerbaunya yang sangat kecil itu. Hal ini tidak diketahui oleh orang jawa. Alhasil kerbau kecil milik negri simalin itu menang. Lalu dari pertandingan inilah tercipta nama minangkabau yang berasal dari kata minang yang berarti menang dan kabau yang berarti kerbau. Jadilah minangkabau. Ya setidaknya begitulah sejarah singkat tentang nama minangkabau yang kudapat saat pertama datang ke negri ini, untuk sementara kupercayai sejarah ini. Ya kepercayaanku ini berlandasan, untukku yang bukan “orang minang” pikiran awamku tentang mereka orang minang adalah mereka sedikit cerdas dalam hal berpikir, kira – kira begitu juga paradigma yang berkembang tentang mereka di luar sana. Ya jadi aku percayai saja.
Tapi untungnya aku ini mahasiswa fakultas sastra yang di dalamnya juga terdapat jurusan tentang ilmu sejarah. Aku punya banyak teman disana, anak sejarah begitu istilahnya. Walaupun aku adalah mahasiswa pembelajar sastra dan bukan anak sejarah tapi aku sedikit menyukai sejarah. Ya segala hal tentang bagaimana dunia ini dahulunya, aku menyukainya. Jadi kutanyai saja pada mereka dan ternyata sejarah tentang nama minangkabau yang kudapat dahulu adalah salah. Itu adalah ulah belanda, politik adu domba katanya. Dasar belanda gila, untunglah aku bisa bertanya dan memastikan sejarah langsung pada ahlinya.
Kata temanku anak sejarah itu, nama minangkabau berasal dari bahasa arab yaitu minangkabawiyah yang artinya maaf aku lupa kata itu menjelaskan tentang apa. Tapi setidaknya sejarah nama minangkabau yang baru kudapat ini lebih terdengar ramah daripada sejarah yang diciptakan oleh belanda gila itu. Okeh itu tentang nama.
Lalu aku ingin bercerita tentang manusia – manusia yang ada didalamnya. Bicara tentang manusia, berarti bicara tentang budaya. Karena manusia adalah salah satu dari unsur budaya, itu yang kupahami dari bangku kuliah dan sebagai mahasiswa fakultas sastra. Dan sungguh itu sangat berbeda, benar – benar berbeda dari tempatku sebelumnya, kampung halaman tercinta. Aku ini lahir dan dibesarkan dalam masyarakat melayu, bumi lancang kuning. Tapi aku berkembang dan belajar banyak di ranah minang, negri damparan. Bukan bermaksud mengangkat isu primordial atau kesukuan, aku mencintai negri ku sendiri tapi aku lebih tertarik dengan negri orang, ranah minang negri damparan. Itu karena, aku belajar lebih banyak hal disini. Memang negri sendiri adalah tempat ternyaman tapi negri orang lebih menjanjikan banyak pelajaran. Tak percaya, silahkan buktikan.
Ditempatku melihat orang berbicara dengan landasan adat itu sangatlah jarang. Tapi disini dalam percakapan bahkan hanya sekedar gurauan, aku melihat adanya unsur adat dan kebudayaan. Ditempatku, di bumi lancang kuning sana melihat orang dewasa berbicara tentang pepatah adat saja susah, tapi disini aku malah mendengar anak kecil bicara dengan menggunakan kata – kata atau pribahasa adatnya dan itu di pakai dalam bahasa pergaulan sehari – hari. Anak kecil disini tahu dengan istilah kato nan ampek, dimana terdapat 4 cara bertutur yang berbeda pemakaiannya sesuai dengan lawan bicaranya. Mandata, malereng, mandaki dan manurun. Aku tahu banyak pepatah minang tapi tak satupun tahu tentang pepatah negri asalku. Aku tahu dengan istilah Bak manggadangkan anak ula , takana lai takatokan indak, Buruak muko camin dibalah, lamak dek awak katuju dek urang, Biliak ketek biliak gadang, Gabak dihulu tando kahujan, cewang dilangik tando kapaneh, Gadang maimpok, panjang malindieh, laweh nak manyawok, raso jo pareso. Yah banyak lagi lah kira – kira. Aku tahu bukan karena belajar tapi karena sering mendengar.
Disini dalam berbicara atau hanya gurauan saja mereka tidak melupakan adat dan budaya. Tapi di tempatku budaya mungkin hanya sebagai sejarah belaka. Mereka tidak melupakan adat dan budaya, itulah yang aku suka. Lihatlah, aku belajar bukan, belajar tentang penghargaan.
Itulah salah satu mengapa aku tertarik dengan negri orang. Aku ingin belajar apa saja yang tak kujumpai di negriku. Negriku indah tapi karena telah terbiasa maka ia menjadi biasa – biasa saja. Aku butuh yang tak biasa, aku butuh yang tak biasa untuk mengasah rasa.
Nanti kuceritakan lagi tentang negri damparanku ini, cerita tak habis sampai disini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar