Kami MAPALA, Mahasiswa Pecinta Alam
Kami ini anak MAPALA, ya MAPALA.Bukan Mahasiswa Paling Lama, bukan Mahasiswa Palala dan juga bukan Mama Papa Larang. Kami MAPALA, Mahasiswa Pecinta Alam. Ada banyak versi dan anggapan tentang kepanjangan dari singkatan MAPALA.Beberapa yang paling sering muncul kepermukaan dan menyesatkan adalah 3 hal di atas.Kami di anggap mahasiswa paling lama menamatkan kuliah karena terlalu sering “bermain” di alam dan terlena karenanya.Kami di anggap mahasiswa palala karena suka menjelajah, dan kami di anggap melakukan hal yang sangat di larang oleh para orang tua karena kegiatan kami di anggap berbahaya karena nyawa kamilah yang menjadi taruhannya,itu menurut mereka.
Mereka juga mengatakan bahwa pekerjaan kami adalah pekerjaan gila, hanya menggoda marabahaya.Kami di anggap golongan yang mencintai kematian.Bukan, sama sekali bukan. Kami tak mencintai kematian, kami mencintai kehidupan itulah kenapa kami pergi “bermain” ke alam.Ada suatu hal yang berbeda saat kami berada di alam yang katanya berbahaya itu. Kami memang selalu dilelahkan olehnya saat kami bermain dengannya bahkan sampai dibuatnya luka, tapi ia selalu berhasil membuat kami melangkah di kala lelah. Dan kami selalu menyukai saat – saat kami dibuat lelah tapi dipaksa terus melangkah.Kami mencintainya karena ia selalu menepati janjinya, ia selalu menyuguhkan kebahagiaan setelah kelelahan, “dan sesungguhnya setelah kesulitan itu ada kemudahan, setelah kesulitan itu ada kemudahan” begitu seingatku firman tuhan. “dan maka berlelah – lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang “ begitu pula imam Syafi’I berkata. jadi kami selalu rela dan bahagia dilelahkan olehnya.
Gunung kami daki, lembah kami turuni, hutan belantara kami jelajahi, goa – goa gelap sunyi kami telusuri, dinding – dinding batu kami panjati.Lalu mereka bertanya apa yang kami cari. Yang jelas kami bukan cari mati, kami mencari diri kami sendiri, ya kami mencari diri kami sendiri.Perkara mati adalah suatu hal yang pasti.Dan jika memang seandainya kami mati, setidaknya kami mati di jalan yang kami pilih. Orang – orang seperti kami ini tak ingin mati di tempat tidur, itulah yang kami pahami. Memang ada banyak cara untuk mati, tapi kami lebih memilih mati di jalan kami. Tapi sekali lagi kuulangi, sesungguhnya perjalanan kami bukanlah perjalanan mencari kematian.Perjalanan kami adalah perjalanan mencari kehidupan, kami punya akal, jiwa dan hati yang ingin kami hidupkan dan alam adalah tempat terbaik untuk menghidupkannya. Akal, jiwa dan hati kami menjadi jauh lebih hidup saat kami berada di alam yang dianggap syarat akan marabahaya itu. Alam membuat kami jauh lebih hidup.Lalu bagaimana mungkin mereka mengatakan bahwa perjalanan kami adalah perjalanan mencari kematian sedangkan kami menemukan kehidupan ?
Bisa di bilang kami adalah mahluk – mahluk keras kepala, jadi tenang saja karena kami takkan mati dengan mudahnya.Masalah takdir memang telah ditetapkan tapi usaha manusia juga ikut menentukan bukan ?
Lagi pula aku secara pribadi sudah memutuskan, aku tak ingin mati muda.Aku ingin hidup lama dan bahagia.Dulu aku menyukai satu bait syair dari seorang filsuf Yunani yang juga disukai oleh GIE( salah seorang tokoh yang kukagumi ), begini bunyinya :
Nasib terbaik adalah tak pernah dilahirkan
Yang kedua adalah dilahirkan tapi mati muda
Dan yang tersial adalah mereka yang hidup lama.
Ya, dulunya aku setuju dengan syair ini, tapi kini tak lagi.Aku punya syairku sendiri yang jauh lebih kusetujui, dan bunyinya begini:
Nasib terburuk adalah tak pernah dilahirkan
Selanjutnya adalah dilahirkan tapi mati muda
Dan yang paling beruntung adalah mereka yang hidup lama dan bahagia.
Ya, nasib terburuk adalah mereka yang tak pernah dilahirkan, karena tuhan tak memberi mereka kesempatan untuk belajar.Selanjutnya adalah mereka yang mati muda, karena mereka mendapat kesempatan belajar hanya sebentar saja. Dan yang paling beruntung adalah mereka yang hidup lama dan bahagia, karena merekalah yang paling banyak belajar,tentu saja bagi mereka yang “ memikirkan “. Jadi Aku tak ingin mati muda, aku ingin hidup lama dan bahagia.Aku ingin berperan lebih lama, aku ingin berfungsi lebih lama bagi siapa saja, aku ingin belajar banyak tentang apa saja dan aku ingin menjadi bermaanfaat lebih lama. Tuhan dengarkan aku, aku ingin hidup lama dan bahagia.
Ya begitulah, kami takkan membiarkan diri kami mati dengan mudah.Jika memang tuhan menakdirkan kami untuk mati, setidaknya kami mati di jalan yang telah kami pilih, kami mati sebagai diri kami sendiri.Mungkin itu adalah salah satu kehormatan bagi kami.
salam lestari buat saudara - saudariku
Kami ini anak MAPALA, ya MAPALA.Bukan Mahasiswa Paling Lama, bukan Mahasiswa Palala dan juga bukan Mama Papa Larang. Kami MAPALA, Mahasiswa Pecinta Alam. Ada banyak versi dan anggapan tentang kepanjangan dari singkatan MAPALA.Beberapa yang paling sering muncul kepermukaan dan menyesatkan adalah 3 hal di atas.Kami di anggap mahasiswa paling lama menamatkan kuliah karena terlalu sering “bermain” di alam dan terlena karenanya.Kami di anggap mahasiswa palala karena suka menjelajah, dan kami di anggap melakukan hal yang sangat di larang oleh para orang tua karena kegiatan kami di anggap berbahaya karena nyawa kamilah yang menjadi taruhannya,itu menurut mereka.
Mereka juga mengatakan bahwa pekerjaan kami adalah pekerjaan gila, hanya menggoda marabahaya.Kami di anggap golongan yang mencintai kematian.Bukan, sama sekali bukan. Kami tak mencintai kematian, kami mencintai kehidupan itulah kenapa kami pergi “bermain” ke alam.Ada suatu hal yang berbeda saat kami berada di alam yang katanya berbahaya itu. Kami memang selalu dilelahkan olehnya saat kami bermain dengannya bahkan sampai dibuatnya luka, tapi ia selalu berhasil membuat kami melangkah di kala lelah. Dan kami selalu menyukai saat – saat kami dibuat lelah tapi dipaksa terus melangkah.Kami mencintainya karena ia selalu menepati janjinya, ia selalu menyuguhkan kebahagiaan setelah kelelahan, “dan sesungguhnya setelah kesulitan itu ada kemudahan, setelah kesulitan itu ada kemudahan” begitu seingatku firman tuhan. “dan maka berlelah – lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang “ begitu pula imam Syafi’I berkata. jadi kami selalu rela dan bahagia dilelahkan olehnya.
Gunung kami daki, lembah kami turuni, hutan belantara kami jelajahi, goa – goa gelap sunyi kami telusuri, dinding – dinding batu kami panjati.Lalu mereka bertanya apa yang kami cari. Yang jelas kami bukan cari mati, kami mencari diri kami sendiri, ya kami mencari diri kami sendiri.Perkara mati adalah suatu hal yang pasti.Dan jika memang seandainya kami mati, setidaknya kami mati di jalan yang kami pilih. Orang – orang seperti kami ini tak ingin mati di tempat tidur, itulah yang kami pahami. Memang ada banyak cara untuk mati, tapi kami lebih memilih mati di jalan kami. Tapi sekali lagi kuulangi, sesungguhnya perjalanan kami bukanlah perjalanan mencari kematian.Perjalanan kami adalah perjalanan mencari kehidupan, kami punya akal, jiwa dan hati yang ingin kami hidupkan dan alam adalah tempat terbaik untuk menghidupkannya. Akal, jiwa dan hati kami menjadi jauh lebih hidup saat kami berada di alam yang dianggap syarat akan marabahaya itu. Alam membuat kami jauh lebih hidup.Lalu bagaimana mungkin mereka mengatakan bahwa perjalanan kami adalah perjalanan mencari kematian sedangkan kami menemukan kehidupan ?
Bisa di bilang kami adalah mahluk – mahluk keras kepala, jadi tenang saja karena kami takkan mati dengan mudahnya.Masalah takdir memang telah ditetapkan tapi usaha manusia juga ikut menentukan bukan ?
Lagi pula aku secara pribadi sudah memutuskan, aku tak ingin mati muda.Aku ingin hidup lama dan bahagia.Dulu aku menyukai satu bait syair dari seorang filsuf Yunani yang juga disukai oleh GIE( salah seorang tokoh yang kukagumi ), begini bunyinya :
Nasib terbaik adalah tak pernah dilahirkan
Yang kedua adalah dilahirkan tapi mati muda
Dan yang tersial adalah mereka yang hidup lama.
Ya, dulunya aku setuju dengan syair ini, tapi kini tak lagi.Aku punya syairku sendiri yang jauh lebih kusetujui, dan bunyinya begini:
Nasib terburuk adalah tak pernah dilahirkan
Selanjutnya adalah dilahirkan tapi mati muda
Dan yang paling beruntung adalah mereka yang hidup lama dan bahagia.
Ya, nasib terburuk adalah mereka yang tak pernah dilahirkan, karena tuhan tak memberi mereka kesempatan untuk belajar.Selanjutnya adalah mereka yang mati muda, karena mereka mendapat kesempatan belajar hanya sebentar saja. Dan yang paling beruntung adalah mereka yang hidup lama dan bahagia, karena merekalah yang paling banyak belajar,tentu saja bagi mereka yang “ memikirkan “. Jadi Aku tak ingin mati muda, aku ingin hidup lama dan bahagia.Aku ingin berperan lebih lama, aku ingin berfungsi lebih lama bagi siapa saja, aku ingin belajar banyak tentang apa saja dan aku ingin menjadi bermaanfaat lebih lama. Tuhan dengarkan aku, aku ingin hidup lama dan bahagia.
Ya begitulah, kami takkan membiarkan diri kami mati dengan mudah.Jika memang tuhan menakdirkan kami untuk mati, setidaknya kami mati di jalan yang telah kami pilih, kami mati sebagai diri kami sendiri.Mungkin itu adalah salah satu kehormatan bagi kami.
salam lestari buat saudara - saudariku
Tidak ada komentar:
Posting Komentar