Sabtu, 08 Agustus 2015

god, may i cry ?

dunia mulai berbuat luka, aku tak suka. tapi mau bagaimana, karena status hanya sebagai hamba. turuti saja.

Maar effendi ( ayah terhebat sepanjang masa )


Jika kau telah terbiasa bermain – main dengan kesulitan,maka itu takkan terlalu menyakitkan. Tapi jika kau belum terbiasa bermain – main dengannya, maka itu akan sangat menyakitkan. Ayahku kawan, ayahku yang sedang kubicarakan. Mari kukenalkan dulu kau dengannya. Ia hanya seorang biasa, benar – benar biasa. Ia adalah seorang ayah yang  kaku yang tak pernah menggunakan kata “ nak “ hanya untuk memanggilku,  yang tak pernah memelukku jika aku jatuh, yang tak pernah menghiburku jika aku rapuh dan juga tak pernah ikut menangis bersamaku. Ia adalah ayah yang diam, benar – benar diam. Tapi tahukah kau kawan, mungkin diam adalah sesuatu yang lebih mendalam. Dan memang begitulah kediaman yang terjadi pada ayahku, itu adalah sesuatu yang lebih mendalam. Dalam diam ia tetap menyayangiku, dalam diam ia akan tetap menghiburku dan juga dalam diam ia akan selalu ikut menangis bersamaku. Dan kini kumengerti bahwa kediaman ayahku itu penuh arti.
Ayahku itu tak terbiasa dengan kesusahan ataupun kesulitan yang menghimpit dan dia juga berhasil membawa kami untuk tidak merasakannya barang sedikitpun. Tapi suatu ketika, tak tahu apa maksudnya, tuhan melemparkan kesulitan yang sangat menghimpit kepada ayahku dan itu juga berarti kesulitan untukku, ibuku, kakakku, dan adik – adikku, ini kesulitan untuk keluargaku. Tadi sudah kusampaikan, ayahku itu belum terbiasa bercengkrama dengan kesulitan dan kini ia dipaksa untuk menghadapinya, kami semua dipaksa untuk menghadapinya. Ini kehendak tuhan dan sudah diputuskan maka terpaksa harus kami jalankan. Jika kesulitan itu hanya datang berkunjung dalam waktu yang singkat, mungkin kami akan lebih kuat. Tapi ia berkunjung dalam waktu yang lama dan menimbulkan kelelahan yang luar biasa. Kami memang lelah, tapi jelas ayahkulah yang paling lelah.
Bayangkan betapa aku menghinakan diriku sendiri saat aku melihat ayahku di buat lelah oleh kehidupan dan aku hanya bisa melihat diam tak berdaya. Bayangkan betapa aku membenci diriku sendiri saat aku melihat ayahku disakitkan oleh kesulitan dan aku tak bisa berbuat apa – apa, aku tak berbuat apa – apa. Tapi tahukah kau apa yang bisa kulihat dari mata ayahku yang malang ? aku tak melihat suatu kelelahan pada dirinya yang kulihat adalah dalam diamnya ia mencoba mengatakan kepada kami “ kita tidak sedang dihinakan oleh tuhan, tapi tuhan sedang menyuruh kita untuk lebih berjuang”.  Oh tuhan, satu hal saja yang kupinta padamu untuk dirinya, tolong panjangkan umurnya maka akan kupastikan kebahagiaan untuknya.
Itulah ayahku kawan, ayah terhebat sepanjang zaman. Tuhan tolong hukum ayahku dengan kebahagiaan. :’)
itu ayahku kawan, bagaimana dengan ayahmu ?

kami MAPALA, Mahasiswa Pecinta Alam


Kami MAPALA, Mahasiswa Pecinta Alam
Kami ini anak MAPALA, ya MAPALA.Bukan Mahasiswa Paling Lama, bukan Mahasiswa Palala dan juga bukan Mama Papa Larang. Kami MAPALA, Mahasiswa Pecinta Alam. Ada  banyak versi dan anggapan tentang kepanjangan dari singkatan MAPALA.Beberapa yang paling sering muncul kepermukaan dan menyesatkan adalah 3 hal di atas.Kami di anggap mahasiswa paling lama menamatkan kuliah karena terlalu sering “bermain” di alam dan terlena karenanya.Kami di anggap mahasiswa palala karena suka menjelajah, dan kami di anggap melakukan hal yang sangat di larang oleh para orang tua karena kegiatan kami di anggap berbahaya karena nyawa kamilah yang menjadi taruhannya,itu menurut mereka.
Mereka juga mengatakan bahwa pekerjaan kami adalah pekerjaan gila, hanya menggoda marabahaya.Kami  di anggap golongan yang mencintai kematian.Bukan, sama sekali bukan. Kami tak mencintai kematian, kami  mencintai kehidupan itulah kenapa kami pergi “bermain” ke alam.Ada suatu hal yang berbeda saat kami berada di alam yang katanya berbahaya itu. Kami memang selalu dilelahkan olehnya saat kami  bermain dengannya bahkan sampai dibuatnya luka, tapi ia selalu berhasil membuat kami melangkah di kala lelah. Dan kami  selalu menyukai saat – saat kami dibuat lelah tapi dipaksa terus melangkah.Kami  mencintainya karena ia selalu menepati janjinya, ia selalu menyuguhkan kebahagiaan setelah kelelahan, “dan sesungguhnya setelah kesulitan itu ada kemudahan, setelah kesulitan itu ada kemudahan” begitu seingatku firman tuhan. “dan maka berlelah – lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang “ begitu pula imam Syafi’I berkata. jadi kami  selalu rela dan bahagia dilelahkan olehnya.
Gunung kami daki, lembah kami turuni, hutan belantara kami jelajahi, goa – goa gelap sunyi kami telusuri, dinding – dinding batu kami panjati.Lalu mereka bertanya apa yang kami cari. Yang jelas kami bukan cari mati, kami mencari diri kami sendiri, ya kami mencari diri kami sendiri.Perkara mati adalah suatu hal yang pasti.Dan  jika memang seandainya kami mati, setidaknya kami mati di jalan yang kami pilih. Orang – orang seperti kami  ini tak ingin mati di tempat tidur, itulah yang kami pahami. Memang ada banyak cara untuk mati, tapi kami  lebih memilih mati di jalan kami. Tapi sekali lagi kuulangi, sesungguhnya perjalanan  kami bukanlah perjalanan mencari kematian.Perjalanan kami adalah perjalanan mencari kehidupan, kami punya akal, jiwa dan hati yang  ingin kami hidupkan dan alam adalah tempat terbaik untuk menghidupkannya. Akal, jiwa dan hati kami  menjadi jauh lebih hidup saat kami berada di alam yang dianggap syarat akan marabahaya itu. Alam membuat kami  jauh lebih hidup.Lalu bagaimana mungkin mereka mengatakan bahwa perjalanan kami  adalah perjalanan mencari  kematian sedangkan kami menemukan kehidupan ?
Bisa di bilang kami adalah mahluk – mahluk keras kepala, jadi tenang saja karena kami takkan mati dengan mudahnya.Masalah takdir memang telah ditetapkan tapi usaha manusia juga ikut menentukan bukan ?
Lagi pula aku secara pribadi sudah memutuskan, aku tak ingin mati muda.Aku ingin hidup lama  dan bahagia.Dulu aku menyukai satu bait syair dari seorang filsuf Yunani yang juga disukai oleh GIE( salah seorang tokoh yang  kukagumi ), begini bunyinya :
Nasib terbaik adalah tak pernah dilahirkan
Yang kedua adalah dilahirkan tapi mati muda
Dan yang tersial adalah mereka yang hidup lama.
Ya, dulunya aku setuju dengan syair ini, tapi kini tak lagi.Aku punya syairku sendiri yang jauh lebih kusetujui, dan bunyinya begini:
Nasib terburuk adalah tak pernah dilahirkan
Selanjutnya adalah dilahirkan tapi mati muda
Dan yang paling beruntung adalah mereka yang hidup lama dan bahagia.
Ya, nasib terburuk adalah mereka yang tak pernah dilahirkan, karena tuhan tak memberi mereka kesempatan untuk belajar.Selanjutnya adalah mereka yang mati muda, karena mereka mendapat kesempatan belajar hanya sebentar saja. Dan yang paling beruntung adalah mereka yang hidup lama dan bahagia, karena merekalah yang  paling banyak belajar,tentu saja bagi mereka yang “ memikirkan “. Jadi Aku tak ingin mati muda, aku ingin hidup  lama dan bahagia.Aku ingin berperan lebih lama, aku ingin berfungsi lebih lama bagi siapa saja, aku ingin belajar banyak tentang apa saja dan aku ingin menjadi bermaanfaat lebih lama. Tuhan dengarkan aku, aku ingin hidup lama dan bahagia.
Ya begitulah, kami takkan membiarkan diri kami mati dengan mudah.Jika memang tuhan menakdirkan kami  untuk mati, setidaknya kami mati di jalan yang telah kami pilih, kami mati sebagai diri kami  sendiri.Mungkin itu adalah salah satu kehormatan bagi kami.

salam lestari buat saudara - saudariku

25 februari 2014 ( untuk seorang teman )


bagaimana kalau aku menyerah dulu terhadapmu ? ada hal lain yang harus lebih ku perjuangkan. lagipula kau masih ingin bermain bukan ? ya, bermainlah dulu kawan, bermainlah sementara aku menyelesaikan apa yang harus ku selesaikan.#maaf ada satu hal yang kulupakan. jika dalam "bermainmu" kau mengalami kedukaan, keterlukaan atau butuh sandaran. kau boleh datang, kau boleh datang padaku. tapi kau yang harus mencariku, karena saat ini aku takkan lagi mencarimu. jadi kau yang harus mencariku, kau yang harus mencariku.

tuhan, bolehkah aku bertanya ? 5 Maret 2014 pukul 23:31

untukmu tuhan yang maha esa namun disembah dengan berbagai cara, bolehkah aku bertanya ?  tentang bagaimana dan akan seperti apa aku nantinya. tentang takdir  apa yang akan kuhadapi nantinya. akhir - akhir ini aku mulai dicemaskan olehnya. aku mulai bertanya apakah nantinya aku akan bahagia ?  apakah nantinya aku akan terluka ? apakah nantinya aku akan berguna bagi mereka ? #  tapi sebelum itu semua, terlebih dahulu aku ingin bertanya. BOLEHKAH AKU BERTANYA ?

untuk tulisan SENDAL ( dalam rangka mengobati hati )


sepertinya aku harus ke gunung minggu ini
akhir akhir ini kurasakan jiwaku tak lagi suci
yah kau tahulah penyebabnya, dunia dan seisinya yang penuh caci
mereka membuat jiwaku penuh maki

lalu sepertinya aku juga akan menelusuri goa - goa gelap sunyi
tak sendiri, mungkin beberapa orang teman bisa menemani
semoga disana ada ketenangan sejati

aku kehilangan diriku sendiri akhir - akhir ini
jelas aku harus menemukannya lagi
dan aku sudah tahu kemana aku harus pergi

pulang


sepertinya aku butuh pulang. terkadang terlalu lama di negri orang juga melelahkan. aku butuh pulang, ada yang harus ku sembuhkan.dan memang obat penawar rasa sakit yang paling ampuh di dunia adalah mereka yang dicinta. pulang, aku ingin pulang.