Minggu, 05 Mei 2013

gunung menjulang jadi guru


Gunung menjulang jadi guru
                Jadi ini adalah cerita petualangan terbaruku kawan. Petualangan ini berjudul “ekspedisi ‘MAPASTRA’ – FEKOPALA UA UYEEE” . Terdengar kurang menggetarkan untuk sebuah petualangan, tapi ada banyak hal yang akan kuceritakan. Ada tiga kategori yang terdapat dalam petualangan ini kawan, yang pertama adalah tentang “ pelajaran hidup “, yang kedua tentang “ kebanggaan “ dan yang ketiga tentang “ kegilaan “. Ada satu hal lagi yang harus kujelaskan tentang petualangan ini kawan, petualangan ini berlokasi di gunung Talamau Pasaman Barat, dan jelas ini adalah sebuah ekspedisi pendakian dan nilai lebihnya lagi, gunung ini adalah gunung tertinggi di Sumatra barat dengan tinggi 2987 mdpl, dan kau harus tahu itu kawan ( kebanggaan no. 1 :D )  And now let’s the story begin…
                Adalah aku dan 6 orang selain aku yang akan ada dalam cerita ini. Empat dari mereka adalah aku yang sudah kutemukan dan dua lainnya adalah aku yang baru kutemukan. Tapi kini aku akan bercerita dengan sudut pandang aku. Kukatakan padamu kawan, sebenarnya petualangan ini berisi orang – orang sombong lagi angkuh. Mengapa kukatakan demikian, karena tak  ada satupun dari kami yang pernah mendaki gunung tinggi nan megah ini ( kegilaan no.1 ) , dengan kata lain petualangan ini mengandung 99 % unsur kegilaan tak berlandasan dan hanya 1% saja unsur keyakinan, tapi  satu hal yang pasti, jelas kami adalah anak – anak pemberani kawan, Lagi – lagi kau harus tahu itu ( kebanggaan no. 2 :P ).
                Secara kronologis perjalanan, petualangan ini melewati beberapa pos peristirahatan untuk menanggulangi beberapa  penyakit dasar manusia, seperti haus dan lapar juga kebutuhan akan tidur. Pos pertama bernama harimau campo, aku tak tahu apa makna dibalik pemberian nama pos ini, tapi nama pos ini cukup untuk menciptakan sedikit getaran pada tubuh. Pos kedua adalah pos seribu bunian, lagi – lagi aku tak tahu apa maksud dan tujuan orang yang memberikan nama tersebut tapi yang pasti kawan, akan ada peningkatan frekwensi getaran pada tubuh anda ( trust me ). Pos yang ketiga adalah pos rindu alam, satu – satunya pos yang terdengar agak sedikit bersahabat. Pos keempat adalah bumi sarasah, secara penamaan tak ada protes, name accepted karena memang terdapat sarasah ( air terjun ) disana. Pos kelima adalah pos paninjauan. Sesuai dengan namanya, kau bisa meninjau apapun dari sini, tentunya yang kumaksud disini adalah keindahan dalam arti yang sebenarnya. Pos keenam adalah padang sarinjano, secara penamaan juga tak ada protes karena memang pos ini merupakan hamparan padang rumput yang luas dengan beberapa telaga. Ada 13 telaga yang terdapat di gunung ini tapi hanya ada 8 telaga yang dapat terlihat dari puncak, dan hanya 3 telaga yang kami lewati, berarti ada tiga penemuan besar disini kawan yaitu, penemuan 3 telaga yang kami lewati yaitu penemuan talago gunung sudah, penemuan talago biru dan talago puti sangka bulan, penemuan ini berada dalam kategori orang yang pertama kali melihat. Dan harus kuberitahu kau kawan, aku adalah orang pertama yang menemukan (baca melihat ) talago biru dan ini kusebut sebagai  “kebanggaan no.3 kawan “ :P
                Dan secara kronologis kejiwaan ( baca semangat ) maka ada empat tahap yang aku lewati dalam pendakian ini. Pertama adalah tahap menengadahkan kepala, dimana akan ada semangat yang terbakar dan berapi- api tapi hanya terbakar oleh api tak sejati dengan kata lain sangat berkemungkinan untuk padam. Tahap ini hanya berlangsung pada ketinggian 0 – 1000 mdpl dimana tanpa ragu dan gagah berani ku langkahkan kaki. Tahap pertama ini bertemakan “ just god who can stop me now “. Tahap kedua kunamakan tahap menengadahkan tangan ( baca berdo’a ), dimana aku merasa lelah dan ingin berhenti bahkan kembali. Tahap ini berlangsung pada ketinggian 1000 – 2000 mdpl. Tahap ini mengangkat tema “ just god who can help me now “ karena tahap ini sangat melelahkan kawan. Tahap ketiga kunamakan tahap pemaksaan, dimana sekuat tenaga aku harus menguatkan diri sendiri, memotivasi diri sendiri karena ini menyangkut masalah harga diri kawan, masalah harga diri. Memang tak kuat secara fisik, tapi setidaknya aku harus kuat secara jiwa. Jika kau bukanlah orang yang kuat, maka buatlah dirimu terkesan sebagai orang yang kuat, begitu taktiknya ( pelajaran hidup no.1 ). Pada tahap inilah aku lebih memilih berjalan dengan menundukkan kepala dari pada melihat lurus ke depan, lagi – lagi ini adalah taktik kawan, menurutku akan lebih melegakan melihat seberapa panjang jalan yang telah kita lalui daripada melihat panjang pada apa yang harus kita lalui ke depannya, karena itu hanya akan menambah tingkat kelelahanmu saja ( pelajaran hidup no. 2 ). Tahap ini berlangsung pada ketinggian 2000 – 2900 mdpl dan bertemakan “ just god who can understand me now “. Tahap terakhir kunamakan dengan tahap menikmati kelelahan, dimana aku merasakan kelelahan yang sangat tapi aku menikmatinya, aku menikmatinya kawan, karena sedikit lagi aku akan mencapai apa yang menjadi tujuan dari petualanagn ini. “berlelah – lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang “, seingatku begitu kata imam syafi’i ”.  Tahap ini  berlangsung pada ketinggian 2900 – sampai menuju puncak, tahap ini bertemakan “ just god who I remember now “ . Kini biar kuberitahu kau satu rahasia besar kawan, ternyata kebahagian sejati di puncak gunung bukanlah saat pertama kali kau menginjakkan kaki di puncak tertinggi tapi saat kau terduduk lelah mengenang perjalanan panjang yang telah kau lalui ( pelajaran hidup no. 3 ). Aku sudah merasakannya kawan dan kau harus coba, kau harus coba bagaimana indahnya menikmati kelelahan dalam berjuang, kau harus coba berjuang atas nama “ kami “ bukan “ aku “. Kau harus mencobanya kawan dan ku jamin kau akan menyukainya. Ada beberapa pelajaran lagi yang kudapat di titik puncak petualangan ini, semakin tinggi tempat kau berada, maka akan semakin kuat angin yang akan kau hadapi, dan semakin besar pula peluangmu untuk jatuh ( pelajaran hidup no. 4 ). Itulah mengapa aku takut akan ketinggian, ketinggian memang menyuguhkan pemandangan luar biasa indah yang menjanjikan kedamaian, tapi juga bisa melenakan jika kau tak berpegangan kuat pada hakikat dasar akan konsep keakuanmu ( pelajaran hidup no. 5 ).
Aku telah mencapai puncak akan tujuan petualangan ini kawan, aku dan aku – aku yang lain telah sampai pada apa yang kami tujukan. Dan kini aku  dan aku – aku yang lain akan pulang, dan tahukah kau  kawan, dalam perjalanan pulang lagi – lagi aku belajar satu hal baru, dan ini adalah pelajaran hidup no. 6, pendakian ke puncak itu menimbulkan kelelahan tapi dalam perjalanan pulangnya ( baca penurunan ) kau takkan lagi merasakan kelelahan melainkan kau akan merasakan kesakitan yang sangat ( secara khusus hal ini berlaku pada kaki ) hal ini juga berlaku dalam kehidupan secara umum. Hal lain yang kupelajari dari petualangan ini adalah perkara jatuh dan terluka dalam petualangan itu adalah perkara biasa ( pelajaran hidup no. 7 ). Pelajaran terpenting dalam petualangan ini adalah ternyata tak cukup aku dengan keakuanku sendiri (  pelajaran hidup no. 8 ) dan memang aku takkan pernah benar – benar sendirian, karena akan selalu ada hubungan timbal balik dan saling berjawab  antara aku dan aku – aku yang lain begitulah hukum alamnya ( pelajaran hidup no. 9 ).
Ada satu hal lain dalam petualangan ini yang membuatku berpikir kembali, jadi menurutmu apakah hidup ini bagaikan roda yang berputar dimana kau melalui suatu siklus berbentuk putaran dimana suatu saat kau berada di atas dan disaat yang lain kau akan jatuh dan berada di bawah atau apakah hidup ini bagaikan sebuah pendakian gunung dimana kita melalui siklus berbentuk pendakian menuju puncak hanya saja suatu saat kau akan melewati jalan yang mulus tanpa hambatan dan di saat yang lain kau akan jatuh dan terluka karena sulitnya perjalanan?
Tak perlulah kau jawab kawan, cukup kau pikirkan saja dulu…
Jadi inilah cerita petualangan terbaruku kawan, dan memang begitulah alam, ia menjanjikan banyak pelajaran pada tiap perjalanan.  Salam lestari untuk saudara – saudaraku  J

Tidak ada komentar:

Posting Komentar