Sabtu, 08 Agustus 2015
god, may i cry ?
dunia mulai berbuat luka, aku tak suka. tapi mau bagaimana, karena status hanya sebagai hamba. turuti saja.
Maar effendi ( ayah terhebat sepanjang masa )
Jika
kau telah terbiasa bermain – main dengan kesulitan,maka itu takkan
terlalu menyakitkan. Tapi jika kau belum terbiasa bermain – main
dengannya, maka itu akan sangat menyakitkan. Ayahku kawan, ayahku yang
sedang kubicarakan. Mari kukenalkan dulu kau dengannya. Ia hanya seorang
biasa, benar – benar biasa. Ia adalah seorang ayah yang kaku yang tak
pernah menggunakan kata “ nak “ hanya untuk memanggilku, yang tak
pernah memelukku jika aku jatuh, yang tak pernah menghiburku jika aku
rapuh dan juga tak pernah ikut menangis bersamaku. Ia adalah ayah yang
diam, benar – benar diam. Tapi tahukah kau kawan, mungkin diam adalah
sesuatu yang lebih mendalam. Dan memang begitulah kediaman yang terjadi
pada ayahku, itu adalah sesuatu yang lebih mendalam. Dalam diam ia tetap
menyayangiku, dalam diam ia akan tetap menghiburku dan juga dalam diam
ia akan selalu ikut menangis bersamaku. Dan kini kumengerti bahwa
kediaman ayahku itu penuh arti.
Ayahku itu tak terbiasa dengan kesusahan ataupun kesulitan yang menghimpit dan dia juga berhasil membawa kami untuk tidak merasakannya barang sedikitpun. Tapi suatu ketika, tak tahu apa maksudnya, tuhan melemparkan kesulitan yang sangat menghimpit kepada ayahku dan itu juga berarti kesulitan untukku, ibuku, kakakku, dan adik – adikku, ini kesulitan untuk keluargaku. Tadi sudah kusampaikan, ayahku itu belum terbiasa bercengkrama dengan kesulitan dan kini ia dipaksa untuk menghadapinya, kami semua dipaksa untuk menghadapinya. Ini kehendak tuhan dan sudah diputuskan maka terpaksa harus kami jalankan. Jika kesulitan itu hanya datang berkunjung dalam waktu yang singkat, mungkin kami akan lebih kuat. Tapi ia berkunjung dalam waktu yang lama dan menimbulkan kelelahan yang luar biasa. Kami memang lelah, tapi jelas ayahkulah yang paling lelah.
Bayangkan betapa aku menghinakan diriku sendiri saat aku melihat ayahku di buat lelah oleh kehidupan dan aku hanya bisa melihat diam tak berdaya. Bayangkan betapa aku membenci diriku sendiri saat aku melihat ayahku disakitkan oleh kesulitan dan aku tak bisa berbuat apa – apa, aku tak berbuat apa – apa. Tapi tahukah kau apa yang bisa kulihat dari mata ayahku yang malang ? aku tak melihat suatu kelelahan pada dirinya yang kulihat adalah dalam diamnya ia mencoba mengatakan kepada kami “ kita tidak sedang dihinakan oleh tuhan, tapi tuhan sedang menyuruh kita untuk lebih berjuang”. Oh tuhan, satu hal saja yang kupinta padamu untuk dirinya, tolong panjangkan umurnya maka akan kupastikan kebahagiaan untuknya.
Itulah ayahku kawan, ayah terhebat sepanjang zaman. Tuhan tolong hukum ayahku dengan kebahagiaan. :’)
itu ayahku kawan, bagaimana dengan ayahmu ?
Ayahku itu tak terbiasa dengan kesusahan ataupun kesulitan yang menghimpit dan dia juga berhasil membawa kami untuk tidak merasakannya barang sedikitpun. Tapi suatu ketika, tak tahu apa maksudnya, tuhan melemparkan kesulitan yang sangat menghimpit kepada ayahku dan itu juga berarti kesulitan untukku, ibuku, kakakku, dan adik – adikku, ini kesulitan untuk keluargaku. Tadi sudah kusampaikan, ayahku itu belum terbiasa bercengkrama dengan kesulitan dan kini ia dipaksa untuk menghadapinya, kami semua dipaksa untuk menghadapinya. Ini kehendak tuhan dan sudah diputuskan maka terpaksa harus kami jalankan. Jika kesulitan itu hanya datang berkunjung dalam waktu yang singkat, mungkin kami akan lebih kuat. Tapi ia berkunjung dalam waktu yang lama dan menimbulkan kelelahan yang luar biasa. Kami memang lelah, tapi jelas ayahkulah yang paling lelah.
Bayangkan betapa aku menghinakan diriku sendiri saat aku melihat ayahku di buat lelah oleh kehidupan dan aku hanya bisa melihat diam tak berdaya. Bayangkan betapa aku membenci diriku sendiri saat aku melihat ayahku disakitkan oleh kesulitan dan aku tak bisa berbuat apa – apa, aku tak berbuat apa – apa. Tapi tahukah kau apa yang bisa kulihat dari mata ayahku yang malang ? aku tak melihat suatu kelelahan pada dirinya yang kulihat adalah dalam diamnya ia mencoba mengatakan kepada kami “ kita tidak sedang dihinakan oleh tuhan, tapi tuhan sedang menyuruh kita untuk lebih berjuang”. Oh tuhan, satu hal saja yang kupinta padamu untuk dirinya, tolong panjangkan umurnya maka akan kupastikan kebahagiaan untuknya.
Itulah ayahku kawan, ayah terhebat sepanjang zaman. Tuhan tolong hukum ayahku dengan kebahagiaan. :’)
itu ayahku kawan, bagaimana dengan ayahmu ?
kami MAPALA, Mahasiswa Pecinta Alam
Kami MAPALA, Mahasiswa Pecinta Alam
Kami ini anak MAPALA, ya MAPALA.Bukan Mahasiswa Paling Lama, bukan Mahasiswa Palala dan juga bukan Mama Papa Larang. Kami MAPALA, Mahasiswa Pecinta Alam. Ada banyak versi dan anggapan tentang kepanjangan dari singkatan MAPALA.Beberapa yang paling sering muncul kepermukaan dan menyesatkan adalah 3 hal di atas.Kami di anggap mahasiswa paling lama menamatkan kuliah karena terlalu sering “bermain” di alam dan terlena karenanya.Kami di anggap mahasiswa palala karena suka menjelajah, dan kami di anggap melakukan hal yang sangat di larang oleh para orang tua karena kegiatan kami di anggap berbahaya karena nyawa kamilah yang menjadi taruhannya,itu menurut mereka.
Mereka juga mengatakan bahwa pekerjaan kami adalah pekerjaan gila, hanya menggoda marabahaya.Kami di anggap golongan yang mencintai kematian.Bukan, sama sekali bukan. Kami tak mencintai kematian, kami mencintai kehidupan itulah kenapa kami pergi “bermain” ke alam.Ada suatu hal yang berbeda saat kami berada di alam yang katanya berbahaya itu. Kami memang selalu dilelahkan olehnya saat kami bermain dengannya bahkan sampai dibuatnya luka, tapi ia selalu berhasil membuat kami melangkah di kala lelah. Dan kami selalu menyukai saat – saat kami dibuat lelah tapi dipaksa terus melangkah.Kami mencintainya karena ia selalu menepati janjinya, ia selalu menyuguhkan kebahagiaan setelah kelelahan, “dan sesungguhnya setelah kesulitan itu ada kemudahan, setelah kesulitan itu ada kemudahan” begitu seingatku firman tuhan. “dan maka berlelah – lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang “ begitu pula imam Syafi’I berkata. jadi kami selalu rela dan bahagia dilelahkan olehnya.
Gunung kami daki, lembah kami turuni, hutan belantara kami jelajahi, goa – goa gelap sunyi kami telusuri, dinding – dinding batu kami panjati.Lalu mereka bertanya apa yang kami cari. Yang jelas kami bukan cari mati, kami mencari diri kami sendiri, ya kami mencari diri kami sendiri.Perkara mati adalah suatu hal yang pasti.Dan jika memang seandainya kami mati, setidaknya kami mati di jalan yang kami pilih. Orang – orang seperti kami ini tak ingin mati di tempat tidur, itulah yang kami pahami. Memang ada banyak cara untuk mati, tapi kami lebih memilih mati di jalan kami. Tapi sekali lagi kuulangi, sesungguhnya perjalanan kami bukanlah perjalanan mencari kematian.Perjalanan kami adalah perjalanan mencari kehidupan, kami punya akal, jiwa dan hati yang ingin kami hidupkan dan alam adalah tempat terbaik untuk menghidupkannya. Akal, jiwa dan hati kami menjadi jauh lebih hidup saat kami berada di alam yang dianggap syarat akan marabahaya itu. Alam membuat kami jauh lebih hidup.Lalu bagaimana mungkin mereka mengatakan bahwa perjalanan kami adalah perjalanan mencari kematian sedangkan kami menemukan kehidupan ?
Bisa di bilang kami adalah mahluk – mahluk keras kepala, jadi tenang saja karena kami takkan mati dengan mudahnya.Masalah takdir memang telah ditetapkan tapi usaha manusia juga ikut menentukan bukan ?
Lagi pula aku secara pribadi sudah memutuskan, aku tak ingin mati muda.Aku ingin hidup lama dan bahagia.Dulu aku menyukai satu bait syair dari seorang filsuf Yunani yang juga disukai oleh GIE( salah seorang tokoh yang kukagumi ), begini bunyinya :
Nasib terbaik adalah tak pernah dilahirkan
Yang kedua adalah dilahirkan tapi mati muda
Dan yang tersial adalah mereka yang hidup lama.
Ya, dulunya aku setuju dengan syair ini, tapi kini tak lagi.Aku punya syairku sendiri yang jauh lebih kusetujui, dan bunyinya begini:
Nasib terburuk adalah tak pernah dilahirkan
Selanjutnya adalah dilahirkan tapi mati muda
Dan yang paling beruntung adalah mereka yang hidup lama dan bahagia.
Ya, nasib terburuk adalah mereka yang tak pernah dilahirkan, karena tuhan tak memberi mereka kesempatan untuk belajar.Selanjutnya adalah mereka yang mati muda, karena mereka mendapat kesempatan belajar hanya sebentar saja. Dan yang paling beruntung adalah mereka yang hidup lama dan bahagia, karena merekalah yang paling banyak belajar,tentu saja bagi mereka yang “ memikirkan “. Jadi Aku tak ingin mati muda, aku ingin hidup lama dan bahagia.Aku ingin berperan lebih lama, aku ingin berfungsi lebih lama bagi siapa saja, aku ingin belajar banyak tentang apa saja dan aku ingin menjadi bermaanfaat lebih lama. Tuhan dengarkan aku, aku ingin hidup lama dan bahagia.
Ya begitulah, kami takkan membiarkan diri kami mati dengan mudah.Jika memang tuhan menakdirkan kami untuk mati, setidaknya kami mati di jalan yang telah kami pilih, kami mati sebagai diri kami sendiri.Mungkin itu adalah salah satu kehormatan bagi kami.
salam lestari buat saudara - saudariku
Kami ini anak MAPALA, ya MAPALA.Bukan Mahasiswa Paling Lama, bukan Mahasiswa Palala dan juga bukan Mama Papa Larang. Kami MAPALA, Mahasiswa Pecinta Alam. Ada banyak versi dan anggapan tentang kepanjangan dari singkatan MAPALA.Beberapa yang paling sering muncul kepermukaan dan menyesatkan adalah 3 hal di atas.Kami di anggap mahasiswa paling lama menamatkan kuliah karena terlalu sering “bermain” di alam dan terlena karenanya.Kami di anggap mahasiswa palala karena suka menjelajah, dan kami di anggap melakukan hal yang sangat di larang oleh para orang tua karena kegiatan kami di anggap berbahaya karena nyawa kamilah yang menjadi taruhannya,itu menurut mereka.
Mereka juga mengatakan bahwa pekerjaan kami adalah pekerjaan gila, hanya menggoda marabahaya.Kami di anggap golongan yang mencintai kematian.Bukan, sama sekali bukan. Kami tak mencintai kematian, kami mencintai kehidupan itulah kenapa kami pergi “bermain” ke alam.Ada suatu hal yang berbeda saat kami berada di alam yang katanya berbahaya itu. Kami memang selalu dilelahkan olehnya saat kami bermain dengannya bahkan sampai dibuatnya luka, tapi ia selalu berhasil membuat kami melangkah di kala lelah. Dan kami selalu menyukai saat – saat kami dibuat lelah tapi dipaksa terus melangkah.Kami mencintainya karena ia selalu menepati janjinya, ia selalu menyuguhkan kebahagiaan setelah kelelahan, “dan sesungguhnya setelah kesulitan itu ada kemudahan, setelah kesulitan itu ada kemudahan” begitu seingatku firman tuhan. “dan maka berlelah – lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang “ begitu pula imam Syafi’I berkata. jadi kami selalu rela dan bahagia dilelahkan olehnya.
Gunung kami daki, lembah kami turuni, hutan belantara kami jelajahi, goa – goa gelap sunyi kami telusuri, dinding – dinding batu kami panjati.Lalu mereka bertanya apa yang kami cari. Yang jelas kami bukan cari mati, kami mencari diri kami sendiri, ya kami mencari diri kami sendiri.Perkara mati adalah suatu hal yang pasti.Dan jika memang seandainya kami mati, setidaknya kami mati di jalan yang kami pilih. Orang – orang seperti kami ini tak ingin mati di tempat tidur, itulah yang kami pahami. Memang ada banyak cara untuk mati, tapi kami lebih memilih mati di jalan kami. Tapi sekali lagi kuulangi, sesungguhnya perjalanan kami bukanlah perjalanan mencari kematian.Perjalanan kami adalah perjalanan mencari kehidupan, kami punya akal, jiwa dan hati yang ingin kami hidupkan dan alam adalah tempat terbaik untuk menghidupkannya. Akal, jiwa dan hati kami menjadi jauh lebih hidup saat kami berada di alam yang dianggap syarat akan marabahaya itu. Alam membuat kami jauh lebih hidup.Lalu bagaimana mungkin mereka mengatakan bahwa perjalanan kami adalah perjalanan mencari kematian sedangkan kami menemukan kehidupan ?
Bisa di bilang kami adalah mahluk – mahluk keras kepala, jadi tenang saja karena kami takkan mati dengan mudahnya.Masalah takdir memang telah ditetapkan tapi usaha manusia juga ikut menentukan bukan ?
Lagi pula aku secara pribadi sudah memutuskan, aku tak ingin mati muda.Aku ingin hidup lama dan bahagia.Dulu aku menyukai satu bait syair dari seorang filsuf Yunani yang juga disukai oleh GIE( salah seorang tokoh yang kukagumi ), begini bunyinya :
Nasib terbaik adalah tak pernah dilahirkan
Yang kedua adalah dilahirkan tapi mati muda
Dan yang tersial adalah mereka yang hidup lama.
Ya, dulunya aku setuju dengan syair ini, tapi kini tak lagi.Aku punya syairku sendiri yang jauh lebih kusetujui, dan bunyinya begini:
Nasib terburuk adalah tak pernah dilahirkan
Selanjutnya adalah dilahirkan tapi mati muda
Dan yang paling beruntung adalah mereka yang hidup lama dan bahagia.
Ya, nasib terburuk adalah mereka yang tak pernah dilahirkan, karena tuhan tak memberi mereka kesempatan untuk belajar.Selanjutnya adalah mereka yang mati muda, karena mereka mendapat kesempatan belajar hanya sebentar saja. Dan yang paling beruntung adalah mereka yang hidup lama dan bahagia, karena merekalah yang paling banyak belajar,tentu saja bagi mereka yang “ memikirkan “. Jadi Aku tak ingin mati muda, aku ingin hidup lama dan bahagia.Aku ingin berperan lebih lama, aku ingin berfungsi lebih lama bagi siapa saja, aku ingin belajar banyak tentang apa saja dan aku ingin menjadi bermaanfaat lebih lama. Tuhan dengarkan aku, aku ingin hidup lama dan bahagia.
Ya begitulah, kami takkan membiarkan diri kami mati dengan mudah.Jika memang tuhan menakdirkan kami untuk mati, setidaknya kami mati di jalan yang telah kami pilih, kami mati sebagai diri kami sendiri.Mungkin itu adalah salah satu kehormatan bagi kami.
salam lestari buat saudara - saudariku
25 februari 2014 ( untuk seorang teman )
bagaimana
kalau aku menyerah dulu terhadapmu ? ada hal lain yang harus lebih ku
perjuangkan. lagipula kau masih ingin bermain bukan ? ya, bermainlah
dulu kawan, bermainlah sementara aku menyelesaikan apa yang harus ku
selesaikan.#maaf ada satu hal yang kulupakan. jika dalam "bermainmu" kau
mengalami kedukaan, keterlukaan atau butuh sandaran. kau boleh datang,
kau boleh datang padaku. tapi kau yang harus mencariku, karena saat ini
aku takkan lagi mencarimu. jadi kau yang harus mencariku, kau yang harus
mencariku.
tuhan, bolehkah aku bertanya ? 5 Maret 2014 pukul 23:31
untukmu
tuhan yang maha esa namun disembah dengan berbagai cara, bolehkah aku
bertanya ? tentang bagaimana dan akan seperti apa aku nantinya. tentang
takdir apa yang akan kuhadapi nantinya. akhir - akhir ini aku mulai
dicemaskan olehnya. aku mulai bertanya apakah nantinya aku akan bahagia
? apakah nantinya aku akan terluka ? apakah nantinya aku akan berguna
bagi mereka ? # tapi sebelum itu semua, terlebih dahulu aku ingin
bertanya. BOLEHKAH AKU BERTANYA ?
untuk tulisan SENDAL ( dalam rangka mengobati hati )
sepertinya aku harus ke gunung minggu ini
akhir akhir ini kurasakan jiwaku tak lagi suci
yah kau tahulah penyebabnya, dunia dan seisinya yang penuh caci
mereka membuat jiwaku penuh maki
lalu sepertinya aku juga akan menelusuri goa - goa gelap sunyi
tak sendiri, mungkin beberapa orang teman bisa menemani
semoga disana ada ketenangan sejati
aku kehilangan diriku sendiri akhir - akhir ini
jelas aku harus menemukannya lagi
dan aku sudah tahu kemana aku harus pergi
akhir akhir ini kurasakan jiwaku tak lagi suci
yah kau tahulah penyebabnya, dunia dan seisinya yang penuh caci
mereka membuat jiwaku penuh maki
lalu sepertinya aku juga akan menelusuri goa - goa gelap sunyi
tak sendiri, mungkin beberapa orang teman bisa menemani
semoga disana ada ketenangan sejati
aku kehilangan diriku sendiri akhir - akhir ini
jelas aku harus menemukannya lagi
dan aku sudah tahu kemana aku harus pergi
pulang
sepertinya
aku butuh pulang. terkadang terlalu lama di negri orang juga
melelahkan. aku butuh pulang, ada yang harus ku sembuhkan.dan memang
obat penawar rasa sakit yang paling ampuh di dunia adalah mereka yang
dicinta. pulang, aku ingin pulang.
ranah minang negri damparan ( hah sudah lama tak bercerita )
Sudah
lama aku ingin bercerita, bercerita tentang negri ini. Negri dimana aku
“didamparkan” oleh tuhan. Negri damparanku itu bernama Minangkabau,
negri simalin yang katanya durhaka. Tinggalkan dulu simalin dan
kedurhakaannya, sekarang aku ingin bercerita tentang negrinya.
Kita mulai dari namanya, minangkabau. Awalnya, penjelasan tentang sejarah nama minangkabau yang ku dapat adalah bahwa nama minangkabau berasal dari pertandingan kerbau antara masyarakat jawa dan masyarakat negri simalin. Dahulu, konon ceritanya saat pertandingan tersebut orang jawa memiliki kerbau yang sangat besar dan kuat sedangkan negri simalin hanya mempunyai kerbau yang berukuran sangat kecil dan mustahil untuk mengalahkan kerbau orang jawa yang berukuran besar tersebut. Namun, untuk memenangkan pertandingan tersebut, masyarakat negri simalin memasangkan tanduk besi pada kerbaunya yang sangat kecil itu. Hal ini tidak diketahui oleh orang jawa. Alhasil kerbau kecil milik negri simalin itu menang. Lalu dari pertandingan inilah tercipta nama minangkabau yang berasal dari kata minang yang berarti menang dan kabau yang berarti kerbau. Jadilah minangkabau. Ya setidaknya begitulah sejarah singkat tentang nama minangkabau yang kudapat saat pertama datang ke negri ini, untuk sementara kupercayai sejarah ini. Ya kepercayaanku ini berlandasan, untukku yang bukan “orang minang” pikiran awamku tentang mereka orang minang adalah mereka sedikit cerdas dalam hal berpikir, kira – kira begitu juga paradigma yang berkembang tentang mereka di luar sana. Ya jadi aku percayai saja.
Tapi untungnya aku ini mahasiswa fakultas sastra yang di dalamnya juga terdapat jurusan tentang ilmu sejarah. Aku punya banyak teman disana, anak sejarah begitu istilahnya. Walaupun aku adalah mahasiswa pembelajar sastra dan bukan anak sejarah tapi aku sedikit menyukai sejarah. Ya segala hal tentang bagaimana dunia ini dahulunya, aku menyukainya. Jadi kutanyai saja pada mereka dan ternyata sejarah tentang nama minangkabau yang kudapat dahulu adalah salah. Itu adalah ulah belanda, politik adu domba katanya. Dasar belanda gila, untunglah aku bisa bertanya dan memastikan sejarah langsung pada ahlinya.
Kata temanku anak sejarah itu, nama minangkabau berasal dari bahasa arab yaitu minangkabawiyah yang artinya maaf aku lupa kata itu menjelaskan tentang apa. Tapi setidaknya sejarah nama minangkabau yang baru kudapat ini lebih terdengar ramah daripada sejarah yang diciptakan oleh belanda gila itu. Okeh itu tentang nama.
Lalu aku ingin bercerita tentang manusia – manusia yang ada didalamnya. Bicara tentang manusia, berarti bicara tentang budaya. Karena manusia adalah salah satu dari unsur budaya, itu yang kupahami dari bangku kuliah dan sebagai mahasiswa fakultas sastra. Dan sungguh itu sangat berbeda, benar – benar berbeda dari tempatku sebelumnya, kampung halaman tercinta. Aku ini lahir dan dibesarkan dalam masyarakat melayu, bumi lancang kuning. Tapi aku berkembang dan belajar banyak di ranah minang, negri damparan. Bukan bermaksud mengangkat isu primordial atau kesukuan, aku mencintai negri ku sendiri tapi aku lebih tertarik dengan negri orang, ranah minang negri damparan. Itu karena, aku belajar lebih banyak hal disini. Memang negri sendiri adalah tempat ternyaman tapi negri orang lebih menjanjikan banyak pelajaran. Tak percaya, silahkan buktikan.
Ditempatku melihat orang berbicara dengan landasan adat itu sangatlah jarang. Tapi disini dalam percakapan bahkan hanya sekedar gurauan, aku melihat adanya unsur adat dan kebudayaan. Ditempatku, di bumi lancang kuning sana melihat orang dewasa berbicara tentang pepatah adat saja susah, tapi disini aku malah mendengar anak kecil bicara dengan menggunakan kata – kata atau pribahasa adatnya dan itu di pakai dalam bahasa pergaulan sehari – hari. Anak kecil disini tahu dengan istilah kato nan ampek, dimana terdapat 4 cara bertutur yang berbeda pemakaiannya sesuai dengan lawan bicaranya. Mandata, malereng, mandaki dan manurun. Aku tahu banyak pepatah minang tapi tak satupun tahu tentang pepatah negri asalku. Aku tahu dengan istilah Bak manggadangkan anak ula , takana lai takatokan indak, Buruak muko camin dibalah, lamak dek awak katuju dek urang, Biliak ketek biliak gadang, Gabak dihulu tando kahujan, cewang dilangik tando kapaneh, Gadang maimpok, panjang malindieh, laweh nak manyawok, raso jo pareso. Yah banyak lagi lah kira – kira. Aku tahu bukan karena belajar tapi karena sering mendengar.
Disini dalam berbicara atau hanya gurauan saja mereka tidak melupakan adat dan budaya. Tapi di tempatku budaya mungkin hanya sebagai sejarah belaka. Mereka tidak melupakan adat dan budaya, itulah yang aku suka. Lihatlah, aku belajar bukan, belajar tentang penghargaan.
Itulah salah satu mengapa aku tertarik dengan negri orang. Aku ingin belajar apa saja yang tak kujumpai di negriku. Negriku indah tapi karena telah terbiasa maka ia menjadi biasa – biasa saja. Aku butuh yang tak biasa, aku butuh yang tak biasa untuk mengasah rasa.
Nanti kuceritakan lagi tentang negri damparanku ini, cerita tak habis sampai disini.
Kita mulai dari namanya, minangkabau. Awalnya, penjelasan tentang sejarah nama minangkabau yang ku dapat adalah bahwa nama minangkabau berasal dari pertandingan kerbau antara masyarakat jawa dan masyarakat negri simalin. Dahulu, konon ceritanya saat pertandingan tersebut orang jawa memiliki kerbau yang sangat besar dan kuat sedangkan negri simalin hanya mempunyai kerbau yang berukuran sangat kecil dan mustahil untuk mengalahkan kerbau orang jawa yang berukuran besar tersebut. Namun, untuk memenangkan pertandingan tersebut, masyarakat negri simalin memasangkan tanduk besi pada kerbaunya yang sangat kecil itu. Hal ini tidak diketahui oleh orang jawa. Alhasil kerbau kecil milik negri simalin itu menang. Lalu dari pertandingan inilah tercipta nama minangkabau yang berasal dari kata minang yang berarti menang dan kabau yang berarti kerbau. Jadilah minangkabau. Ya setidaknya begitulah sejarah singkat tentang nama minangkabau yang kudapat saat pertama datang ke negri ini, untuk sementara kupercayai sejarah ini. Ya kepercayaanku ini berlandasan, untukku yang bukan “orang minang” pikiran awamku tentang mereka orang minang adalah mereka sedikit cerdas dalam hal berpikir, kira – kira begitu juga paradigma yang berkembang tentang mereka di luar sana. Ya jadi aku percayai saja.
Tapi untungnya aku ini mahasiswa fakultas sastra yang di dalamnya juga terdapat jurusan tentang ilmu sejarah. Aku punya banyak teman disana, anak sejarah begitu istilahnya. Walaupun aku adalah mahasiswa pembelajar sastra dan bukan anak sejarah tapi aku sedikit menyukai sejarah. Ya segala hal tentang bagaimana dunia ini dahulunya, aku menyukainya. Jadi kutanyai saja pada mereka dan ternyata sejarah tentang nama minangkabau yang kudapat dahulu adalah salah. Itu adalah ulah belanda, politik adu domba katanya. Dasar belanda gila, untunglah aku bisa bertanya dan memastikan sejarah langsung pada ahlinya.
Kata temanku anak sejarah itu, nama minangkabau berasal dari bahasa arab yaitu minangkabawiyah yang artinya maaf aku lupa kata itu menjelaskan tentang apa. Tapi setidaknya sejarah nama minangkabau yang baru kudapat ini lebih terdengar ramah daripada sejarah yang diciptakan oleh belanda gila itu. Okeh itu tentang nama.
Lalu aku ingin bercerita tentang manusia – manusia yang ada didalamnya. Bicara tentang manusia, berarti bicara tentang budaya. Karena manusia adalah salah satu dari unsur budaya, itu yang kupahami dari bangku kuliah dan sebagai mahasiswa fakultas sastra. Dan sungguh itu sangat berbeda, benar – benar berbeda dari tempatku sebelumnya, kampung halaman tercinta. Aku ini lahir dan dibesarkan dalam masyarakat melayu, bumi lancang kuning. Tapi aku berkembang dan belajar banyak di ranah minang, negri damparan. Bukan bermaksud mengangkat isu primordial atau kesukuan, aku mencintai negri ku sendiri tapi aku lebih tertarik dengan negri orang, ranah minang negri damparan. Itu karena, aku belajar lebih banyak hal disini. Memang negri sendiri adalah tempat ternyaman tapi negri orang lebih menjanjikan banyak pelajaran. Tak percaya, silahkan buktikan.
Ditempatku melihat orang berbicara dengan landasan adat itu sangatlah jarang. Tapi disini dalam percakapan bahkan hanya sekedar gurauan, aku melihat adanya unsur adat dan kebudayaan. Ditempatku, di bumi lancang kuning sana melihat orang dewasa berbicara tentang pepatah adat saja susah, tapi disini aku malah mendengar anak kecil bicara dengan menggunakan kata – kata atau pribahasa adatnya dan itu di pakai dalam bahasa pergaulan sehari – hari. Anak kecil disini tahu dengan istilah kato nan ampek, dimana terdapat 4 cara bertutur yang berbeda pemakaiannya sesuai dengan lawan bicaranya. Mandata, malereng, mandaki dan manurun. Aku tahu banyak pepatah minang tapi tak satupun tahu tentang pepatah negri asalku. Aku tahu dengan istilah Bak manggadangkan anak ula , takana lai takatokan indak, Buruak muko camin dibalah, lamak dek awak katuju dek urang, Biliak ketek biliak gadang, Gabak dihulu tando kahujan, cewang dilangik tando kapaneh, Gadang maimpok, panjang malindieh, laweh nak manyawok, raso jo pareso. Yah banyak lagi lah kira – kira. Aku tahu bukan karena belajar tapi karena sering mendengar.
Disini dalam berbicara atau hanya gurauan saja mereka tidak melupakan adat dan budaya. Tapi di tempatku budaya mungkin hanya sebagai sejarah belaka. Mereka tidak melupakan adat dan budaya, itulah yang aku suka. Lihatlah, aku belajar bukan, belajar tentang penghargaan.
Itulah salah satu mengapa aku tertarik dengan negri orang. Aku ingin belajar apa saja yang tak kujumpai di negriku. Negriku indah tapi karena telah terbiasa maka ia menjadi biasa – biasa saja. Aku butuh yang tak biasa, aku butuh yang tak biasa untuk mengasah rasa.
Nanti kuceritakan lagi tentang negri damparanku ini, cerita tak habis sampai disini.
Ronaldo davinci ( manusia yang terhadapnya kutitipkan harapan sebesar dunia )
Perkenalkan
adikku, anugrah ketiga untuk ayah ibuku setelah kakakku dan aku. adik
laki- lakiku tepat setelah aku. Ia ada setelah aku 4 tahun ada d dunia.
Jarak yang cukup bagiku kelak untuk aku bertanggung jawab terhadapnya.
Menurutku akulah satu – satu orang yang paling bertanggung jawab
terhadap masa depannya, tidak ayahku, tidak ibuku, tidak juga kakakku
tapi aku. Yah mungkin ini semacam hierarki tanggung jawab dengan rumus
jika a=b maka b=c dimana a adalah kakakku, b adalah aku dan c adalah
adikku, ya seperti itu.
Adikku itu, bukanlah sosok manusia pembawa sukacita malah lebih cenderung sebagai manusia pembuat luka, terutama terhadap ayah dan ibuku. Pernah suatu ketika aku meminta tuhan agar menghilangkannya saja dari dunia karena ia berkata kasar pada ibuku, ibu kandungku. Dan aku yakin kalian tau tingkat kekasaran ucapannya yang ku maksud sampai – sampai aku ingin ia menghilang dari dunia. Aku mengingatnya, sampai kapanpun aku akan mengingat perlakuan kasarnya tehadap manusia yang paling ku cinta. Tapi aku yakin ia akan menyesalinya dengan tangisan air mata darah. Untuk hal ini aku memakluminya tapi tidak akan melupakannya. Dan memang jika anda sudah terbiasa menghadapi kemudahan maka akan sangat sulit sekali saat menghadapi kesulitan sekecil apapun ia. Tapi jika anda sudah terbiasa dengan kesulitan maka akan lebih mudah menghadapi kesulitan lainnya walau sebesar apapun ia. Ku anggap itulah yang melatarbelakangi dosa besar adikku ini, ia sudah terbiasa dengan kemudahan maka saat menghadapi kesulitan kecil ia merasa dunia seakan menghimpitnya sampai – sampai ia tak lagi mengenal ibunya. Jadi dalam masalah ini ia ku maklumi, masalah dosanya biar ia sendiri yang tangani.
Terhadap adikku si pembuat luka itu, terlepas dari dosa besarnya terhadap ibuku aku punya sesuatu yang lebih besar terhadapnya. Aku punya harapan sebesar dunia yang ingin kutitipkan padanya. Bukan untukku, tapi untuk ayah ibuku. Anggap saja sebagai penebus dosa baginya dan sekaligus penyicil hutang yang takkan pernah terbayar kepada kedua manusia mulia itu.
Hari ini, ia akan pergi jauh mencoba untuk berburu ilmu yang baru yang dijanjikan tanah asing nun jauh. Perasaan aneh membatiniku. Bagaimanapun ia, ia tetap adik kecilku, aku takut dunia menyesatkan atau bahkan melukainya dan aku sangat tak rela jika ia terluka. Karena keterlukaan terparah adalah ketika melihat mereka yang dicinta dalam keadaan terluka dan menderita sedang kita dalam keadaan baik – baik saja. Aku terima jika aku terluka, tapi sangat tak terima jika mereka yang terluka.
Tapi setelah ku pikir – pikir lagi, mungkin lebih baik baginya untuk mengenal luka nestapa agar ia tahu siapa dirinya. Jadi mungkin mulai sekarang aku akan mencoba belajar menerima jika tuhan sedikit “ mengganggu “ nya. Tidak apa – apa tuhan, jika kau ingin “mengganggu” nya, maka ganggulah ia. Tempa jiwanya dengan kesulitan, lalu tolong ajari ia tentang kekuatan dan kesabaran. Biarkan ia merasa sendirian lalu ajarkan ia tentang kebijaksanaan. Jika ia tersesat dari jalannya, maka seret paksa ia kembali ke jalannya. Perlihatkan kepadanya penderitaan lalu ajari ia untuk memahami kesyukuran. Jika ia bersedih hati maka ingatkan dia bahwa ia tak sendirian. Jika dunia dan seisinya melelahkan jiwanya maka ajarilah ia tentang ketangguhan.
Sedikit bekal untuk kau yang kutitipkan harapan sebesar dunia kepadamu…..
Orang berakal dan beradab tidak akan diam di kampung halaman. Tinggalkan negrimu dan merantaulah ke negri orang, merantaulah. Kau akan dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan. berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang. aku melihat air menjadi rusak karena diam tertahan, singa jika tak tinggalkan sarang tak akan dapat mangsa, anak panah jika tak tinggalkan busur takkan kenasasaran, jika matahari di orbitnya tidak bergerak dan terus diam, tentu manusia bosan padanya dan enggan memandang, biji emas bagaikan tanah biasa sebelum digali dari tambang, kayu gaharu tak ubahnya seperti kayu biasa jika di dalam hutan ( imam syafi’I )
Jadi pergilah ke negri orang, dapatkan apa yang ingin kau dapatkan. Pelajari apapun tentang kehidupan lalu pulanglah dengan membawa senyuman ! from zero to hero boy, kelak si pembuat luka akan berganti nama menjadi si pembawa senyum bahagia. Satu hal lagi, janganlah lemah terhadap mulut manusia ! caci maki adalah salah satu obat penguat hati.

Adikku itu, bukanlah sosok manusia pembawa sukacita malah lebih cenderung sebagai manusia pembuat luka, terutama terhadap ayah dan ibuku. Pernah suatu ketika aku meminta tuhan agar menghilangkannya saja dari dunia karena ia berkata kasar pada ibuku, ibu kandungku. Dan aku yakin kalian tau tingkat kekasaran ucapannya yang ku maksud sampai – sampai aku ingin ia menghilang dari dunia. Aku mengingatnya, sampai kapanpun aku akan mengingat perlakuan kasarnya tehadap manusia yang paling ku cinta. Tapi aku yakin ia akan menyesalinya dengan tangisan air mata darah. Untuk hal ini aku memakluminya tapi tidak akan melupakannya. Dan memang jika anda sudah terbiasa menghadapi kemudahan maka akan sangat sulit sekali saat menghadapi kesulitan sekecil apapun ia. Tapi jika anda sudah terbiasa dengan kesulitan maka akan lebih mudah menghadapi kesulitan lainnya walau sebesar apapun ia. Ku anggap itulah yang melatarbelakangi dosa besar adikku ini, ia sudah terbiasa dengan kemudahan maka saat menghadapi kesulitan kecil ia merasa dunia seakan menghimpitnya sampai – sampai ia tak lagi mengenal ibunya. Jadi dalam masalah ini ia ku maklumi, masalah dosanya biar ia sendiri yang tangani.
Terhadap adikku si pembuat luka itu, terlepas dari dosa besarnya terhadap ibuku aku punya sesuatu yang lebih besar terhadapnya. Aku punya harapan sebesar dunia yang ingin kutitipkan padanya. Bukan untukku, tapi untuk ayah ibuku. Anggap saja sebagai penebus dosa baginya dan sekaligus penyicil hutang yang takkan pernah terbayar kepada kedua manusia mulia itu.
Hari ini, ia akan pergi jauh mencoba untuk berburu ilmu yang baru yang dijanjikan tanah asing nun jauh. Perasaan aneh membatiniku. Bagaimanapun ia, ia tetap adik kecilku, aku takut dunia menyesatkan atau bahkan melukainya dan aku sangat tak rela jika ia terluka. Karena keterlukaan terparah adalah ketika melihat mereka yang dicinta dalam keadaan terluka dan menderita sedang kita dalam keadaan baik – baik saja. Aku terima jika aku terluka, tapi sangat tak terima jika mereka yang terluka.
Tapi setelah ku pikir – pikir lagi, mungkin lebih baik baginya untuk mengenal luka nestapa agar ia tahu siapa dirinya. Jadi mungkin mulai sekarang aku akan mencoba belajar menerima jika tuhan sedikit “ mengganggu “ nya. Tidak apa – apa tuhan, jika kau ingin “mengganggu” nya, maka ganggulah ia. Tempa jiwanya dengan kesulitan, lalu tolong ajari ia tentang kekuatan dan kesabaran. Biarkan ia merasa sendirian lalu ajarkan ia tentang kebijaksanaan. Jika ia tersesat dari jalannya, maka seret paksa ia kembali ke jalannya. Perlihatkan kepadanya penderitaan lalu ajari ia untuk memahami kesyukuran. Jika ia bersedih hati maka ingatkan dia bahwa ia tak sendirian. Jika dunia dan seisinya melelahkan jiwanya maka ajarilah ia tentang ketangguhan.
Sedikit bekal untuk kau yang kutitipkan harapan sebesar dunia kepadamu…..
Orang berakal dan beradab tidak akan diam di kampung halaman. Tinggalkan negrimu dan merantaulah ke negri orang, merantaulah. Kau akan dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan. berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang. aku melihat air menjadi rusak karena diam tertahan, singa jika tak tinggalkan sarang tak akan dapat mangsa, anak panah jika tak tinggalkan busur takkan kenasasaran, jika matahari di orbitnya tidak bergerak dan terus diam, tentu manusia bosan padanya dan enggan memandang, biji emas bagaikan tanah biasa sebelum digali dari tambang, kayu gaharu tak ubahnya seperti kayu biasa jika di dalam hutan ( imam syafi’I )
Jadi pergilah ke negri orang, dapatkan apa yang ingin kau dapatkan. Pelajari apapun tentang kehidupan lalu pulanglah dengan membawa senyuman ! from zero to hero boy, kelak si pembuat luka akan berganti nama menjadi si pembawa senyum bahagia. Satu hal lagi, janganlah lemah terhadap mulut manusia ! caci maki adalah salah satu obat penguat hati.

Langganan:
Komentar (Atom)