Gunung menjulang jadi guru
Jadi
ini adalah cerita petualangan terbaruku kawan. Petualangan ini berjudul “ekspedisi ‘MAPASTRA’ – FEKOPALA UA UYEEE”
. Terdengar kurang menggetarkan untuk sebuah petualangan, tapi ada banyak hal
yang akan kuceritakan. Ada tiga kategori yang terdapat dalam petualangan ini
kawan, yang pertama adalah tentang “
pelajaran hidup “, yang kedua tentang “
kebanggaan “ dan yang ketiga tentang “
kegilaan “. Ada satu hal lagi yang harus kujelaskan tentang petualangan ini
kawan, petualangan ini berlokasi di gunung Talamau Pasaman Barat, dan jelas ini
adalah sebuah ekspedisi pendakian dan nilai lebihnya lagi, gunung ini adalah gunung
tertinggi di Sumatra barat dengan tinggi 2987 mdpl, dan kau harus tahu itu kawan
( kebanggaan no.
1 :D ) And now let’s the story begin…
Adalah
aku dan 6 orang selain aku yang akan ada dalam cerita ini. Empat dari mereka
adalah aku yang sudah kutemukan dan dua lainnya adalah aku yang baru kutemukan.
Tapi kini aku akan bercerita dengan sudut pandang aku. Kukatakan padamu kawan,
sebenarnya petualangan ini berisi orang – orang sombong lagi angkuh. Mengapa
kukatakan demikian, karena tak ada
satupun dari kami yang pernah mendaki gunung tinggi nan megah ini ( kegilaan no.1 ) , dengan kata lain petualangan ini mengandung 99 %
unsur kegilaan tak berlandasan dan hanya 1% saja unsur keyakinan, tapi satu hal yang pasti, jelas kami adalah anak –
anak pemberani kawan, Lagi – lagi kau harus tahu itu ( kebanggaan no. 2 :P ).
Secara
kronologis perjalanan, petualangan ini melewati beberapa pos peristirahatan
untuk menanggulangi beberapa penyakit dasar
manusia, seperti haus dan lapar juga kebutuhan akan tidur. Pos pertama bernama
harimau campo, aku tak tahu apa makna dibalik pemberian nama pos ini, tapi nama
pos ini cukup untuk menciptakan sedikit getaran pada tubuh. Pos kedua adalah
pos seribu bunian, lagi – lagi aku tak tahu apa maksud dan tujuan orang yang
memberikan nama tersebut tapi yang pasti kawan, akan ada peningkatan frekwensi
getaran pada tubuh anda ( trust me ). Pos yang ketiga adalah pos rindu alam,
satu – satunya pos yang terdengar agak sedikit bersahabat. Pos keempat adalah
bumi sarasah, secara penamaan tak ada protes, name accepted karena memang terdapat sarasah ( air terjun ) disana.
Pos kelima adalah pos paninjauan. Sesuai dengan namanya, kau bisa meninjau
apapun dari sini, tentunya yang kumaksud disini adalah keindahan dalam arti
yang sebenarnya. Pos keenam adalah padang sarinjano, secara penamaan juga tak
ada protes karena memang pos ini merupakan hamparan padang rumput yang luas
dengan beberapa telaga. Ada 13 telaga yang terdapat di gunung ini tapi hanya
ada 8 telaga yang dapat terlihat dari puncak, dan hanya 3 telaga yang kami
lewati, berarti ada tiga penemuan besar disini kawan yaitu, penemuan 3 telaga
yang kami lewati yaitu penemuan talago gunung sudah, penemuan talago biru dan
talago puti sangka bulan, penemuan ini berada dalam kategori orang yang pertama
kali melihat. Dan harus kuberitahu kau kawan, aku adalah orang pertama yang
menemukan (baca melihat ) talago biru dan ini kusebut sebagai “kebanggaan no.3 kawan “ :P
Dan secara kronologis kejiwaan ( baca semangat ) maka ada empat tahap
yang aku lewati dalam pendakian ini. Pertama adalah tahap menengadahkan kepala, dimana akan ada semangat yang terbakar
dan berapi- api tapi hanya terbakar oleh api tak sejati dengan kata lain sangat
berkemungkinan untuk padam. Tahap ini hanya berlangsung pada ketinggian 0 –
1000 mdpl dimana tanpa ragu dan gagah berani ku langkahkan kaki. Tahap pertama
ini bertemakan “ just god who can stop me now “. Tahap kedua kunamakan tahap
menengadahkan tangan ( baca berdo’a ), dimana aku merasa lelah dan ingin
berhenti bahkan kembali. Tahap ini berlangsung pada ketinggian 1000 – 2000
mdpl. Tahap ini mengangkat tema “ just god who can help me now “ karena
tahap ini sangat melelahkan kawan. Tahap ketiga kunamakan tahap pemaksaan, dimana sekuat tenaga aku
harus menguatkan diri sendiri, memotivasi diri sendiri karena ini menyangkut
masalah harga diri kawan, masalah harga diri. Memang tak kuat secara fisik,
tapi setidaknya aku harus kuat secara jiwa. Jika kau bukanlah orang yang kuat,
maka buatlah dirimu terkesan sebagai orang yang kuat, begitu taktiknya ( pelajaran hidup no.1
). Pada tahap inilah aku lebih memilih berjalan dengan menundukkan kepala dari
pada melihat lurus ke depan, lagi – lagi ini adalah taktik kawan, menurutku
akan lebih melegakan melihat seberapa panjang jalan yang telah kita lalui daripada
melihat panjang pada apa yang harus kita lalui ke depannya, karena itu hanya
akan menambah tingkat kelelahanmu saja ( pelajaran hidup no. 2 ). Tahap ini berlangsung
pada ketinggian 2000 – 2900 mdpl dan bertemakan “ just god who can understand me
now “. Tahap terakhir kunamakan dengan tahap menikmati kelelahan, dimana aku merasakan kelelahan yang
sangat tapi aku menikmatinya, aku menikmatinya kawan, karena sedikit lagi aku
akan mencapai apa yang menjadi tujuan dari petualanagn ini. “berlelah –
lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang “, seingatku begitu kata
imam syafi’i ”. Tahap ini berlangsung pada ketinggian 2900 – sampai menuju
puncak, tahap ini bertemakan “ just god who I remember now “ . Kini
biar kuberitahu kau satu rahasia besar kawan, ternyata kebahagian sejati di
puncak gunung bukanlah saat pertama kali kau menginjakkan kaki di puncak
tertinggi tapi saat kau terduduk lelah mengenang perjalanan panjang yang telah
kau lalui ( pelajaran
hidup no. 3 ). Aku sudah merasakannya
kawan dan kau harus coba, kau harus coba bagaimana indahnya menikmati kelelahan
dalam berjuang, kau harus coba berjuang atas nama “ kami “ bukan “ aku “. Kau
harus mencobanya kawan dan ku jamin kau akan menyukainya. Ada beberapa
pelajaran lagi yang kudapat di titik puncak petualangan ini, semakin tinggi
tempat kau berada, maka akan semakin kuat angin yang akan kau hadapi, dan
semakin besar pula peluangmu untuk jatuh ( pelajaran hidup no. 4 ).
Itulah mengapa aku takut akan ketinggian, ketinggian memang menyuguhkan pemandangan
luar biasa indah yang menjanjikan kedamaian, tapi juga bisa melenakan jika kau
tak berpegangan kuat pada hakikat dasar akan konsep keakuanmu ( pelajaran hidup no.
5 ).
Aku telah mencapai
puncak akan tujuan petualangan ini kawan, aku dan aku – aku yang lain telah
sampai pada apa yang kami tujukan. Dan kini aku
dan aku – aku yang lain akan pulang, dan tahukah kau kawan, dalam perjalanan pulang lagi – lagi
aku belajar satu hal baru, dan ini adalah pelajaran hidup no. 6, pendakian ke puncak itu menimbulkan
kelelahan tapi dalam perjalanan pulangnya ( baca penurunan ) kau takkan lagi
merasakan kelelahan melainkan kau akan merasakan kesakitan yang sangat ( secara
khusus hal ini berlaku pada kaki ) hal ini juga berlaku dalam kehidupan secara
umum. Hal lain yang kupelajari dari petualangan ini adalah perkara jatuh dan
terluka dalam petualangan itu adalah perkara biasa ( pelajaran hidup no. 7 ). Pelajaran terpenting dalam petualangan ini adalah
ternyata tak cukup aku dengan keakuanku sendiri ( pelajaran hidup no. 8 )
dan memang aku takkan pernah benar – benar sendirian, karena akan selalu ada
hubungan timbal balik dan saling berjawab
antara aku dan aku – aku yang lain begitulah hukum alamnya ( pelajaran hidup no.
9 ).
Ada satu hal lain
dalam petualangan ini yang membuatku berpikir kembali, jadi menurutmu apakah
hidup ini bagaikan roda yang berputar dimana kau melalui suatu siklus berbentuk
putaran dimana suatu saat kau berada di atas dan disaat yang lain kau akan
jatuh dan berada di bawah atau apakah hidup ini bagaikan sebuah pendakian
gunung dimana kita melalui siklus berbentuk pendakian menuju puncak hanya saja suatu
saat kau akan melewati jalan yang mulus tanpa hambatan dan di saat yang lain
kau akan jatuh dan terluka karena sulitnya perjalanan?
Tak perlulah kau jawab
kawan, cukup kau pikirkan saja dulu…
Jadi inilah cerita petualangan terbaruku
kawan, dan memang begitulah alam, ia menjanjikan banyak pelajaran pada tiap
perjalanan. Salam lestari untuk saudara
– saudaraku J