Senyuman itu menampar keras wajahku
Pernah suatu
waktu takdir mengajakku untuk bertemu dengan seseorang,lalu ku iyakan ajakannya
karena memang aku takkan pernah bisa membantahnya.ternyata takdir membawaku
kepada seorang miskin,tua dan lemah yang sedang tersenyum dengan
sombongnya.kuperhatikan pak tua tersebut,dan aku sadar ia tidak tersenyum
untukku.kuperhatikan lagi,mencoba mencari tahu hal apa yang membuatnya
tersenyum seperti itu.
karena tak kutemukan jawab,takdir mulai berbicara kepadaku”tahukah kau kepada
siapa pak tua itu tersenyum?”
“tidak”jawabku…
“Ia tersenyum pada semua
kesulitan,kesempitan dan nasib buruk yang sedang bercengkrama tak mau lepas
darinya”jelas sang takdir padaku.
Tentu aku tak percaya atas apa yang
baru saja dikatakannya,aku berjalan menuju pak tua tersebut.biar kupastikan
sendiri jawabannya.lalu aku bertanya”wahai pak tua,untuk siapakah senyum yang
sedang kau pertontonkan itu?
dengan tenang dan tanpa dosa ia
menjawab”untuk semua kesulitan yang selalu setia mengikutiku”
masih tak percaya,kuulangi
pertanyaanku”wahai pak tua,untuk siapakah senyum yang sedang kau pertontonkan
itu?
Lagi ia menjawab” untuk semua
kesulitan yang selalu setia mengikutiku”
Ku coba bertanya lagi,mungkin ia
kurang memahami pertanyaanku” wahai pak tua,untuk siapakah senyum yang sedang
kau pertontonkan itu?
Tak ku sangka ia masih menjawab dengan
jawaban yang sama” untuk semua kesulitan yang selalu setia mengikutiku”jawabnya
lagi.
“Oh
tuhan,Manusia macam apa ini?” pikirku tak percaya.
Setelah mendengar jawabannya untuk
yang ketiga kalinya, aku pun melayangkan protes terhadapnya”wahai pak tua kau
semestinya menangis seperti kebanyakan manusia,bukan tersenyum seperti ini.coba
kau lihat lagi dengan siapa kau sedang bercengkrama wahai pak tua! Engkau
sedang bercengkrama dengan kesulitan dan nasib buruk yang sengaja bersekongkol
untuk menekanmu dari segala arah bukan dengan kemudahan yang melapangkan.
Masih dengan senyumnya ia menanggapi
protes yang kulayangkan”karena aku tahu dengan siapa aku sedang berurusanlah,makanya
aku tersenyum.
“tapi….belum sempat aku menunaikan
kalimatku,ia sudah bicara kembali”jadi bagaimana semestinya wahai anak
muda?haruskah aku menangis dan memohon kepada kesulitan itu untuk pergi dan
menjauhiku?haruskah aku memberitahu dunia bahwa kesulitan selalu setia
mengikutiku dan berharap mereka akan melemparkan belas kasihan padaku?haruskah
aku menangis sekeras yang ku bisa agar semua orang mendengar tangisannku dan
berharap akan menolongku? Haruskah aku menangis wahai anak muda?haruskah aku menangis?
Mendengar jawabannya barusan,entah
mengapa mulut dan hatiku sepakat untuk diam,benar-benar diam.
Masih dalam kediamanku,ia kembali
berbicara”inilah yang seharusnya aku ,kamu dan mereka lakukan wahai anak
muda.inilah yang semestinya manusia lakukan saat sengaja atau tak sengaja ia
berpapasan dengan kesulitan.lemparkan saja senyum tersombong yang kita punya
kepada kesulitan itu,dengan sendirinya senyum itu akan menjelaskan pada sang
kesulitan bahwa sang pemilik senyum tak sedikitpun takut kepadanya,bahwa sang
pemilik senyum akan meladeni semua hal-hal sulit yang telah ia siapkan,bahwa
sang pemilik senyum dengan berani akan menyatakan”wahai kesulitan silahkan
datang kapanpun engkau mau,dan lakukanlah apa yang ingin kau lakukan
terhadapku,boleh kupastikan engkaulah yang akan kelelahan mengikutiku,engkaulah
yang akan bosan dan menyerah terhadapku,hingga pada akhirnya kau pergi aku akan
sampai pada kata terima kasih karena telah mengajariku
bagaimana caranya berjuang,bagaimana cara menguatkan diri dan bagaimana cara
bersyukur pada tuhanku”.
Mendengar jawabannya pertanyaanku
terjawab sudah,terjawab dengan lengkapnya.lalu aku berkata pada pak tua
tersebut”ya,memang itulah yang seharusnya kita lakukan” dan pergi meninggalkan
pak tua yang masih tersenyum dan aku mulai bertanya pada diriku sendiri”oh
tuhan,apa yang telah kulakukan?” .